NAZARUDDIN DI TANGKAP DI CARTAGENA COLUMBIA

Tuesday, 9 August 2011




Penangkapan buron KPK, Muhammad Nazaruddin oleh tim gabungan merupakan pencapaian yang monumental bagi lembaga antikorupsi tersebut. Nazaruddin tercatat sebagai buron pertama yang berhasil ditangkap di luar negeri.

"Iya itu yang pertama. Sebelumnya kita belum pernah," tutur Jubir KPK Johan Budi SP kepada wartawan di kantornya, Jl Rasuna Said, Jaksel, Senin (8/8/2011).

Sejauh ini KPK memiliki tiga buronan di luar negeri. Selain Nazaruddin, ada pula buronan kasus suap Deputi Gubernur Senior (DGS) Nunun Nurbaetie dan tersangka kasus korupsi sistem komunikasi radio terpadu (SKRT) Anggoro Widjojo yang melenggang ke Singapura.

Jika Nazaruddin akhirnya dapat dibawa pulang ke Indonesia, maka daftar buronan KPK pun berkurang. Untuk Nunun dan Anggoro sampai sejauh ini belum kembali terdengar update pengejaran dari kedua buronan itu.

Nunun diduga kuat berada di Thailand dan disembunyikan oleh salah satu pihak yang ada di sana. Sedangkan Anggoro melenggang ke Singapura dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya.

Perlu dicatat, KPK sebelumnya pernah berhasil menangkap buronan yang lari ke luar negeri: Alm Hengky Samuel Daud pada pertengahan 2009 silam. Namun tersangka kasus pemadam kebakaran itu ditangkap di Indonesia, saat dia pulang dari pelariannya di Australia.




sumber: detikcom
»»  READMORE...

SEHARI DUA KALI KEBAKARAN,53 RUMAH HANGUS,290 JIWA KEHILANGAN TEMPAT TINGGAL

Monday, 8 August 2011


SAMARINDA- Kebakaran besar terjadi di Jalan dr Soetomo Gang 7 dan Gang 8 Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu, sekira pukul 02.45 Wita Sabtu (6/8). Api menghanguskan 59 rumah dan sedikitnya 260 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Setelah musibah ini, pada pukul 11.30 Wita, menyusul terbakar satu rumah di Jalan PM Noor RT 38 Kelurahan Sempaja, Kecamatan Samarinda Utara. Tak ada korban jiwa dalam dua musibah di hari keenam bulan Ramadan itu. Namun kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Kebakaran di Jalan dr Soetomo diduga akibat korsleting listrik yang terjadi di tempat indekos Aneka di Gang 7 RT 39. Indekos putri ini terdiri dari 4 kamar.  “Asal mula api itu diduga dari indekos milik Bu Lina. Api terlihat menjalar dari kilometer listrik indekos itu,” ucap Sukardi, ketua RT 39.
Menurut Sukardi, indekos ini sudah dua kali terbakar, namun ini kebakaran yang terbesar. “Tujuh bulan lalu juga terbakar. Tapi satu kamar saja yang ludes beserta isinya,” ujar dia.
Kebakaran dinihari itu, kata Sukardi, api berkobar cukup besar dan cepat menyebar karena kebanyakan bangunan dari kayu, sehingga sulit dipadamkan. “Angin sangat kencang subuh tadi, sehingga arah api menyebar ke 4 RT,” imbuh Sukardi yang rumahnya terhindar dari musibah.
Dia merinci, di lingkungan RT 34 sebanyak 4 rumah yang terbakar, di RT 35 ada 17 rumah (90 jiwa kehilangan tempat tinggal), di RT 37 ada 33 rumah (150 jiwa kehilangan tempat tinggal), sedangkan di RT 39 ada 5 rumah dan menyebabkan 20 jiwa kehilangan rumah.
Dia mengungkapkan, petugas pemadam kesulitan memasuki lokasi kebakaran karena gang yang sempit dan padat penduduk. “Mobil pemadam tak bisa mendekati sumber api, sehingga warga berusaha memadamkan dengan peralatan seadanya,” ucap Sukardi.
Terpisah Camat Samarinda Ulu Achmad Raihan menyebut, kebakaran di Jalan dr Soetomo kali ini adalah yang terbesar kedua. Tahun lalu di RT 35 juga pernah terbakar dan ada puluhan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.
“Kebakaran hari ini (kemarin, Red.) masih dalam penyelidikan kepolisian. Belum diketahui pasti asal api dan pemicu api, apakah karena korsleting atau karena kompor yang belum dimatikan, apalagi ini bulan puasa aktivitas memasak bisa buat lupa,” imbuhnya.
Dia memperkirakan, kebakaran kali ini menelan kerugian sekitar Rp 3 miliar. “Warga banyak yang tak sempat menyelamatkan harta bendanya. Hanya baju di badan yang dibawa,” ucapnya.
Lina, pemilik indekos putri Aneka saat dikonfirmasi di rumahnya menyebut, meteran listrik indekos itu memang dalam keadaan rusak. ”Meteran listrik kos-kosan itu sudah beberapa kali diperbaiki, tapi sering kena bola saat anak-anak sekitar bermain. Mungkin itu sebabnya terjadi hubungan arus pendek,” jelasnya.
Lina mengaku mendengar kabar kebakaran sekitar pukul 02.30 Wita dinihari. Ketika itu dia melihat kepulan asap dan api dari rumahnya di Gang 4 di jalan yang sama. Lina menduga kebakaran tersebut akibat korsleting indekosnya.
Seorang penghuni indekos yang tak ingin disebutkan namanya juga membenarkan hal  tersebut. Dia mengakui, meteran listrik beberapa kali mengalami kerusakan akibat bola yang dimainkan anak-anak sekitar. Namun setelah diperbaiki, masih saja terkena hantaman bola dan akhirnya tidak lagi diperbaiki.
Kepala Seksi (Kasi) OperasionalPemadam KebakaranKotaSamarindaMakmurSantosomengakui pihaknya terlambat mendapatkan informasi kebakaran tersebut. Ditambah lagi lokasi kebakaran yang berada dalam gang yang sempit dan jauh dari jalan besar. Kerumunan warga juga sempat menghambat petugas memadamkan api.
“Lokasi kejadian memang cukup jauh dari jalan besar sehingga menyulitkan kami memadamkan api. Kami bahkan sampai menyambung tiga slang panjang untuk mengalirkan air ke lokasi kejadian,” tuturnya. Makmur mengerahkan 25 unit mobil pemadam kebakaran, termasuk  mobil pemadam kebakaran milik swasta.
Saat api berkobar, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang turut menyaksikan langsung di tengah kerumunan warga. Dia bahkan sempat kesal ketika melihat petugas kebakaran lamban memadamkan api. Syaharie melalui Kabag Humas Pemkot Erham Yusuf menuturkan prihatin atas kejadian tersebut.
“Saat itu Pak Jaang bersiap untuk melakukan sahur. Ketika mendengar ada kebakaran, beliau bergegas memantau kejadian didampingi ajudan,” ujar Erham. Menurut Erham, Jaang memang kerap memantau langsung kebakaran. Setelah memantau kebakaran, Jaang salat subuh di salah satu masjid, tak jauh dari lokasi kejadian.
Sementara itu Kanit Reskrim Samarinda Ulu Ipda Kadiyo mengatakan, saksi Sukardi yang menjadi ketua RT 39 menyebutkan api berasal dari indekos milik Lina. “Kebakaran diduga akibat korsleting listrik di indekos yang tak ditinggali pemiliknya. Pemiliknya (Lina, Red.) tinggal di gang sebelah (Gang 4, Red.),” ucapnya.
Sedangkan kebakaran di Jalan PM Noor menghanguskan sebuah rumah dan satu konter penjualan pulsa milik Gunawan (41). Rumah yang terbakar ditinggali 5 jiwa. “Saat kebakaran, rumah dalam keadaan kosong. Penghuninya berjualan sekitar 50 meter dari rumah itu,” beber Kapolsek Samarinda Utara Kompol Brahmati Agus.
Dia mengatakan, selain bangunan rumah berisi perabotan dan barang berharga, dua sepeda motor juga ikut hangus. “Rumah tersebut tak ada listriknya, jadi diduga api menyala dari tungku kayu bakar yang belum padam,” tuturnya

sumber: Kaltim post
»»  READMORE...

PENANGANAN BANJIR SAMARINDA,JAANG BANTAH KALAU DI ANGGAP TAK BECUS

Friday, 22 July 2011


Syaharie Jaang
SAMARINDA - Rencana Pemprov Kaltim menghentikan subsidi anggaran banjir ke Pemkot Samarinda, dibantah Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang. Saat ditemui sebelum menghadiri sebuah acara di kantor gubernur kemarin dia menyebutkan, sejauh ini belum ada kepastian mengenai penghentian bantuan subsidi banjir yang selama ini bergulir dari pemprov. “Tidak ada, itu belum pasti” ucap Jaang.
Informasi penghentian subsidi banjir pemprov itu semula diutarakan Sekretaris Komisi III DPRD Kaltim Jawad Siradjuddin. Dia mengatakan, pemprov tak akan memberi bantuan keuangan lagi ke pemkot untuk penanggulangan banjir. Alasannya, beberapa proyek banjir tak dilaksanakan dengan baik oleh pemkot. Contoh proyek Polder Gang Indra, penanganan banjir di Jalan Lambung, Jalan Gerilya, Jalan Antasari, dan lainnya.
Kembali ke Jaang, dia mencoba menyakinkan jika wacana yang muncul itu belum pasti. Sebab menurut wakil wali kota dua periode pendamping Achmad Amins ini, belum ada keputusan resmi dari pemprov terkait masalah tersebut. Bahkan dia belum tahu bila ada wacana penghentian subsidi banjir yang tahun-tahun sebelumnya diberikan pemprov ke pemkot, termasuk pembentukan instansi khusus yang menangani banjir membawahi pemprov.
“Itu ‘kan hanya wacana, bagaimana bentuk kebijakannya belum bisa dilihat sampai sekarang,” ujarnya.
Disinggung pemicu penghentian subsidi itu karena pemkot dinilai kurang becus menangani banjir Samarinda, Jaang membantanya. Menurut dia, penanganan banjir tidak bisa diselesaikan dalam waktu cepat, tapi harus melibatkan banyak pihak termasuk pemprov. “Menangani banjir tidak seperti menggosok lampu aladin. Jadi memang tidak bisa dalam waktu singkat,” imbuhnya.
Terkait keterlibatan pemprov yang semakin besar dalam menangani berbagai persoalan di Samarinda, seperti pengambilalihan proyek Bandara Samarinda Baru (BSB) dan perbaikan Jalan Cendana, Jaang seolah tidak mau terlalu jauh berkomentar. Hanya saja dia sempat mengatakan jika Kamis (21/7) hari ini bakal ada kunjungan resmi dari pemprov ke pemkot untuk mendengarkan program kerja pemkot.
“Kita lihat saja, kebetulan besok (hari ini. Red.) pemkot akan mempresentasikan program kerja dan segala persoalan yang ada dalam kunjungan resmi pemprov,” tambahnya. Jaang juga mengatakan jika apa yang disampaikan Jawad Siradjuddin adalah motivasi pemkot untuk menghadapi berbagai persoalan, seperti banjir dan lainnya. 


sumber:Kaltim post
»»  READMORE...

JALAN BERLUBANG SEPANJANG SANGATA - TELUK GOLOK ,TEPATNYA DI MALOY

MEDAN BERAT: Satu-satunya jalur darat menuju Maloy

PETINGGI negeri berkumpul di Istana Bogor, pada 18 dan 19 April 2011. Kala itu, dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, rapat Master-plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) berlangsung.
Belum lama ini, Kaltim menjadi pilar utama pembangunan ekonomi serta koridor ekonomi nasional, sejak dikeluarkannya Instruksi Presiden 1/2010. Pelabuhan Maloy yang berada tepat di bawah “moncongnya” Pulau Kalimantan, lantas menjadi poin penting dalam program MP3EI.
Maloy, sebuah nama yang menjadi sohor di Kaltim beberapa tahun belakangan. Itu tak lain setelah Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengunggah kepada publik tentang rencana kawasan industri di Maloy serta pelabuhan internasional di Teluk Golok, Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur. Rencana Kawasan Industri Maloy memerlukan 4.305 hektare, sementara Pelabuhan Internasional Teluk Golok --sekira 12 kilometer dari Maloy-- memakai lahan 1.000 hektare.
Dalam pertemuan di Bogor, diputuskan jalur Samarinda-Bontang-Sangatta-Simpang Perdau-Maloy yang sudah berstatus jalan nasional akan ditingkatkan. Dengan kalimat lain, segala tanggungan terhadap pemeliharaan, perbaikan, dan pembangunan jalan diambil dari kantong pemerintah pusat. Maka mulai periode 2010 hingga 2015, Kementerian Pekerjaan Umum mengucurkan dana dengan total Rp 290 miliar untuk ruas jalan Samarinda-Maloy.
Tetapi 2015 masih empat tahun lagi. Kondisi di ruas tersebut pada masa sekarang masih jauh dari kata mulus. Dari Bontang ke Sangatta sepanjang 65 kilometer, terhampar 465 lubang kecil dan sedang. Ditambah lagi, 25 lubang besar. Dari Sangatta ke Simpang Perdau yang 40 kilometer, terdapat 338 lubang kecil, bersanding dengan 32 bolongan berukuran besar.
Simpang Perdau menuju Maloy (Bengalon-Kaliorang) yang sekitar 70-an kilometer, sedikitnya 600 lubang besar dan kecil. Dua segmen di ruas ini juga belum ditimpa aspal. Total, hampir 1.500 lubang jalanan dari ibu kota Kutai Timur menuju rencana pelabuhan itu.
Di Bengalon, tidak kurang dari lima perlintasan batu bara melintang di jalan negara. Sejumlah pemegang izin usaha pertambangan yang dikeluarkan Pemkab Kutai Timur sedang giat-giatnya mengeluarkan batu bara di kawasan ini. Sementara kondisi jalan, selain taburan seribu lubang tadi, juga sangat-sangat berlumpur di saat hujan dan sangat-sangat berdebu di kala cerah. Sama seperti hampir seluruh jalur Trans Kalimantan di kabupaten ini.
“Kondisinya memang seperti ini. Memerlukan waktu yang lebih lama untuk sampai ke Kaliorang,” terang Kepala Desa Bangun Jaya Juen Lon. Di desa Bangun Jaya dan sekitarnya, sekitar 15 kilometer dari Teluk Golok yang menjadi lokasi Maloy, bermukim sejumlah transmigran yang hidup dari bertani.
Di desa ini sedang dibangun bendungan dan saluran irigasi senilai Rp 40 miliar oleh Pemprov Kaltim. Dikerjakan PT Wijaya Karya, bendungan ini akan menghidupi 1.500 hektare sawah di kecamatan itu. Sisanya juga dimanfaatkan untuk kepentingan kawasan industri Maloy, ketika nanti beroperasi.
Sementara di Teluk Golok, baru beberapa tiang pancang yang ditancap, seperti yang ditemukan anggota DPRD Kaltim ketika berkunjung ke sana, beberapa pekan lalu. Belum ada kegiatan lainnya. Menurut Sekkab Kutim Ismunandar, pihaknya sedang menyelesaikan pembebasan lahan kawasan industri.
Sekretaris Badan Percepatan KIPI Maloy Rudi Kusnandar mengungkapkan, dalam waktu dekat, sejumlah perusahaan perkebunan melaksanakan pekerjaan land clearing di kawasan Maloy. “Sejauh ini, baru Rp 7 miliar dana APBD yang keluar untuk Maloy,” ungkapnya.

sumber:Kaltim post
»»  READMORE...
 
 
 

About Me

My Photo
Ernesto Silangen
samarinda, kalimantan timur, Indonesia
View my complete profile

Followers

 
Copyright © Mahakam News