Showing posts with label bencana. Show all posts
Showing posts with label bencana. Show all posts

Gunung Lokon Meletus lagi

Wednesday, 22 February 2012

Gunung Lokon di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, kembali meletus pukul 11.52 WITA dengan letusan susulan 11.56 WITA, Selasa (21/2/2012). Namun, letusan kali ini tidak sebesar letusan-letusan sebelumnya.

"Letusan debu vulkanik tidak terlihat. Hanya terdengar seperti bunyi gemuruh dari kawah," kata petugas Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Mahawu di Kakaskasen, Kota Tomohon, Jemmy Runtuwene, di Tomohon.

Enam jam sebelum terjadi letusan, menurut Jemmy, terekam sekitar 115 gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal. "Bila ditotal sejak peningkatan gempa Senin pukul 16.00 WITA, maka mencapai 400-an kali," katanya.

Warga di kelurahan terdekat dengan kawah Tompaluan, Gunung Lokon, seperti Kelurahan Kinilow I, Kinilow, dan Kakaskasen I, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, hanya mendengar bunyi gemuruh yang tidak terlalu keras.
 
sumber:tribun Kaltim
»»  READMORE...

Kebakaran dari komplek Pertamina merembat ke perkampungan

BERJIBAKU: Pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang berkobar. Setelah satu jam, api akhirnya bisa dipadamkan.

Lima keluarga di RT 073, Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara, harus mengungsi dari kediamannya. Itu setelah rumah yang mereka tempati, ludes terbakar. Kejadian itu terjadi kemarin (20/2) sekira pukul 11.00 Wita.
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi di lokasi kejadian, api mulai terlihat dari rumah di komplek Pertamina Nomor 409 yang ditempati Anwar. Kemudian api merembet dan membakar empat rumah lainnya.
“Dari rumah (kompleks) Pertamina, dan membakar tiga rumah milik warga di perkampungan karena letaknya berdekatan,” kata tetangga Anwar itu.
Bagi Anwar, ini merupakan kebakaran kedua yang menimpa dirinya, sebelumnya dia juga menjadi korban amukan si jago merah pada 2006 silam. “Ini rumah milik anak saya yang bekerja di Pertamina, saya disuruh tempati setelah rumah kami terbakar,” ujarnya.
Rumah milik warga lainnya yang ikut terbakar di antaranya milik Wilopo, Amat, dan Budi. Rumah nomor 16 yang ditempati Budi itu, disekat menjadi dua dan ditempati keluarga Yuni Setiawati.
Saat ditemui di Mapolsek Balikpapan Utara, Anwar mengatakan, saat kejadian dia dan istrinya sedang tidak berada di tempat, hanya menantunya saja, Rina, yang menjaga rumah. “Saya dan istri sudah keluar rumah dari pagi. Tahunya juga setelah ditelepon,” ujar Anwar.
Menurutnya, tidak ada satu pun barang berharga yang mampu diselamatkannya. “Semua terbakar, tinggal baju di badan saja,” ungkapnya.
Sementara itu, Rina kepada petugas Mapolsek Balikpapan Utara mengatakan bahwa dia melihat api berasal dari kamar yang ditempati oleh Anwar dan istrinya. “Dari kamar ibu, tapi saya tidak tahu penyebabnya,” ujarnya.
Setidaknya 12 mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api. Baru setelah sejam berjuang, si jago merah dapat dipadamkan. “Lokasi kejadian yang berbukit dan angin yang kencang menyulitkan kami untuk melakukan pemadaman,” kata Kepala Bidang Penanggulangan Bencana dan Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran (BPBK) Syafaruddin. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun kerugian materi diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Kapolsek Balikpapan Utara Kompol Putu Rideng yang dikonfirmasi mengenai penyebab kebakaran mengatakan, pihaknya masih mengumpulkan bukti-bukti. “Masih dalam penyelidikan, tapi seluruh korban sudah kami mintai keterangan,” katanya

sumber: kaltimpost
»»  READMORE...

Fakta baru runtuhnya jembatan Kutai Kertanegara temuan tim investigasi



Tim investigasi bentukan Kementerian Pekerjaan Umum menuntaskan tugasnya. Sementara itu, Kepolisian Daerah Kaltim memberikan laporan sementara penyelidikan ambruknya Jembatan Kartanegara. Sayang, belum menyentuh penyelewengan yang merugikan keuangan negara. Ini gambaran lebih detail soal penyebab runtuhnya Jembatan Kartanegara pada 26 November 2011 lalu.
SEJUMLAH anggota Komisi V DPR mendadak berang. Setelah animasi yang menunjukkan detik-detik ambruknya Jembatan Kartanegara diputar, Tim Evaluasi dan Investigasi Teknik Jembatan Kukar memaparkan kesimpulannya pada Rabu siang, 8 Februari lalu.
Berlangsung di ruang rapat Komisi V di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, beberapa anggota Komisi yang membidangi pekerjaan umum itu gusar dengan kalimat penutup dari laporan tim. Kalimatnya begini, “Findings (temuan) tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pihak tertentu tetapi mencari apa yang kurang benar dan apa yang harus diluruskan.”
Sebagian anggota Komisi berpendapat, temuan tim investigasi sejatinya menjadi dasar apa yang salah sehingga “Golden Gate Kalimantan” itu rontok dalam 20 detik. Sempat dihiasi sanggahan, rapat ini dihadiri Wakil Menteri PU Hermanto Dardak, Kepala Bareskrim Mabes Polri Komisaris Jenderal Sutarman, Kapolda Kaltim Inspektur Jenderal Bambang Widaryatmo, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, dan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari.
Dari dokumen paparan Tim Investigasi yang diperoleh Kaltim Post, runtuhnya jembatan berusia sepuluh tahun itu nyaris sama dengan hasil investigasi media ini, beberapa pekan setelah petaka 26 November 2011 itu. Tim menyimpulkan, ambruknya jembatan diduga dipicu tegangan tambahan saat pekerjaan pemeliharaan.
Pada Jumat nahas itu, PT Bukaka Teknik Utama yang mendapat proyek pemeliharaan jembatan, disebut telah mendongkrak bagian tengah bentang panjang. Awalnya, PT Bukaka mendongkrak di sisi hilir sehingga kabel hanger memendek 15 sentimeter.
Informasi ini sama dengan yang disampaikan seorang pekerja yang selamat, Muhammad Haidir. Dari dokumen pemeriksaan yang diperoleh Kaltim Post, Haidir mengatakan, badan jembatan telah diangkat dengan dongkrak hidraulik berkekuatan 200 ton. Dongkrak itu diletakkan di bawah jembatan dengan kabel penggantung sebagai porosnya. Tiga dongkrak yang digunakan juga telah diamankan Polda Kaltim sebagai barang bukti.
Haidir bercerita, setiap dongkrak naik lima sentimeter, baut yang mengikat kabel penggantung di bagian bawah jembatan harus dikencangkan. Pekerja asal Kota Bangun, Kukar ini, mendongkrak bersama tiga orang lainnya dan diawasi dua mandor dari PT Bukaka. Dua lainnya mengatur lalu lintas.
Setelah kabel penggantung di sisi hilir naik 15 sentimeter, dilanjutkan ke sebelah hulu. Uraian Tim Investigasi menyebutkan, pada saat kabel di sisi sebelah hulu diangkat, sambungan (clamp) antara batang penggantung dan kabel utama putus.
Kekuatan utama badan jembatan di antara dua menara/pylon sepanjang 270 meter itu terdapat pada 52 kabel penggantung (hanger) di kedua sisinya. Hanger itu terikat pada dua kabel utama dengan bantuan pengait (clamp), masing-masing 26 kabel di sisi hulu dan hilir.
Dengan demikian, penomoran kabel tengah --yang paling pendek--, dihitung dari sisi Tenggarong adalah di urutan tiga belas. Kabel penggantung bentang tengah inilah yang disebut Tim Investigasi yang paling pertama putus.
Menurut penjelasan tim yang terdiri dari sepuluh ahli itu, pendongkrakan jembatan menimbulkan tegangan tambahan. Saat  pekerja PT Bukaka men-jack dengan menaikkan mur kabel penggantung di bawah jembatan, tegangan kabel meningkat dan melampaui kemampuan material. Akhirnya, kabel nomor 13 putus diikuti 51 kabel penggantung lainnya.
Bentang tengah yang memiliki ruang untuk lalu lintas sungai setinggi 15 meter itu terbenam ke dasar sungai dalam waktu 20 detik. Mengambil lebih 20 nyawa. “Yang saya tahu ada yang putus. Saya mendengar suara pecah yang nyaring,” kata Haidir, saat diperiksa Tim Investigasi. PT Bukaka melalui kuasa hukum mereka, sudah membantah memulai pekerjaan jacking. Mereka menyebut, baru dalam tahap persiapan.
Tim kemudian menyimpulkan, kegagalan elemen struktur pada sistem sambungan atas yaitu antara batang hanger dan kabel utama, termasuk sistem sambungan (clamp). Material sambungan yang menjadi titik lemah lintasan gaya ini terbuat dari Ductile Cast IronFCD 60. Sayangnya, belum diketahui apakah kualitas clamp buatan PT Bakrie Tonsjaya tersebut sesuai spesifikasi dalam kontrak pembangunannya. Kepada sejumlah media, si pembuat, PT Bakrie Tonsjaya, membantah mengurangi kualitas material clamp.
BANYAK SEBAB
Pekerjaan PT Bukaka, sebut Tim Investigasi, bukan satu-satunya penyebab keruntuhan jembatan. Kegagalan struktur Jembatan Kartanegara juga berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, operasional dan pemeliharaan. Temuan tim, ketidakmampuan material menahan gaya tambahan tadi juga dialami mur penutup. Di sejumlah patahan, tim menemui keretakan (fatigue), korosi, dan hanging bar yang keropos pada elemen yang mengalami kegagalan.
Keadaan diperparah lantaran kurangnya pengetahuan terhadap jembatan jenis ini, ditambah tidak meminta masukan dari praktisi. Langkah yang dilaporkan pihak perencana, telah meminta rekomendasi ahli dari Jepang melalui JICA dan konsultan PCI. “Ternyata itu membawa dampak buruk karena rekomendasinya menyalahi code of practice di dunia saat itu,” papar Ketua Tim Investigasi, Iswandi Imran, dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Anggota Komisi V DPR dari daerah pemilihan Kaltim, Hetifah Sjaifuddin Siswanda, mengatakan laporan hasil investigasi tim independen harus benar-benar dijadikan pelajaran dalam perencanaan pembangunan dan pemeliharaan. Tragedi ini, katanya, merupakan “pengorbanan” masyarakat Kutai Kartanegara yang tidak boleh dianggap sepele. “Penegak hukum harus memproses secara transparan dan akuntabel semua pelanggaran hukum yang mengakibatkan runtuhnya jembatan,” ungkap Politisi Partai Golkar ini.
MASIH PENYELIDIKAN
Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V, Kapolda Kaltim Irjen Bambang Widaryatmo juga melaporkan hasil penyelidikannya. Berkas tiga tersangka yang diduga melakukan unsur lalai, dikirimkan kepada Kejaksaan Negeri Tenggarong pada 11 Januari 2012. Ketiganya yakni Kabag Departemen Engineering Unit Usaha Jembatan PT Bukaka, MSF; Kabid Bina Marga Dinas PU Kukar, YS; serta PPTK berinisial S. Kejari menjawabnya pada 16 Januari dengan mengembalikan berkas dengan petunjuk (P19) pada 25 Januari 2012.
Itu setelah kepolisian memeriksa 63 saksi dan mengumpulkan tiga belas dokumen dan sembilan barang bukti lainnya. Untuk dugaan tindak pidana korupsi, Polda telah memeriksa seluruh APBD Kukar yang memuat proyek pemeliharaan jembatan. Sejauh ini statusnya masih penyelidikan. Dari dokumen laporan kepolisian kepada Komisi V, tidak ditemui pengecekan kualitas clamp apakah sesuai dengan spesifikasinya atau tidak.
Menurut sumber Kaltim Post yang anggota Komisi V DPR, ada beberapa kejanggalan dalam laporan ini. Sebab, hingga sekarang belum terbukti apakah clamp sesuai dengan spesifikasinya. “Sulit untuk tidak menduga ada pihak yang ingin diamankan di sini. Kami mendapat informasi, dokumen yang memuat spesifikasi itu masih disembunyikan,” katanya.
Sumber itu melanjutkan, sesuai tidaknya spesifikasi clamp sangat menentukan adanya unsur pidana. Sebab, titik lemah jembatan diduga kuat ada di sejumlah sambungan di clamp tersebut. Proses pemeliharaan yang terabaikan, katanya, juga belum menemui titik terang sehubungan unsur tindak pidana korupsi.
Sementara itu, Hetifah yang juga dari Komisi V, membenarkan pendapat sumber Kaltim Post tadi. Hetifah menuturkan, pasal itu memang sempat ditanyakan dalam rapat.
Namun begitu, hingga kini kepolisian memang belum menetapkan tersangka dalam dugaan tindak pidana korupsi jembatan ini. Tiga tersangka yang sudah ditahan, semuanya terlibat dalam pekerjaan pendongkrakan yang diatur dalam tindak pidana umum. Pekerjaan yang diduga menyebabkan petaka di kabel nomor 13.

sumber:kaltimpost
»»  READMORE...

Bawa masalah banjir Samarinda ke Jakarta,harus ada tindakan hukum

Monday, 20 February 2012



SAMARINDA - Sambil terus bekerja untuk menuntaskan masalah banjir di Kota Tepian, pemkot diharapkan bisa membuat formulasi baru, untuk tidak hanya mengurangi genangan air, tapi juga mencegah “perbuatan” ke arah itu. Anggota Komisi V DPR RI daerah pemilihan (dapil) Kaltim Hetifah menyebutkan, mestinya ada langkah penegakan hukum yang konkret dan tegas terkait hal tersebut. “Jadi selain melakukan penanganan, juga ada penindakan-penindakan, jadi bisa lebih menyeluruh mengatasi masalah banjir ini,” kata Hetifah di Samarinda, kemarin.
Tindakan hukum, kata dia, bisa diterapkan terhadap para pelanggar tata ruang. Siapa saja yang melanggar tata ruang kota, mesti diberi sanski tegas, agar tak terulang. Harus juga ada langkah tegas untuk menghentikan izin tambang baru.  “Senin besok (hari ini) akan ada RDP (rapat dengar pendapat) dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan pihak terkait, membahas soal banjir. Memang rapatnya akan membahas banjir secara umum, seperti di Jakarta. Semoga kementerian sudah ada rencana penanganan untuk banjir di Samarinda. Kalau belum, kita sodorkan masalah banjir di sini,” katanya.
Di tempat sama, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Prasaran Wilayah (PU dan Kipraswil) Kaltim Muhammad Taufik Fauzi menyebutkan, tak tuntasnya masalah banjir di ibu kota Kaltim selama ini karena penanganannya yang parsial. Hal ini, kata dia, sebenarnya sudah diketahui semua pengambil kebijakan di level kota dan provinsi. Makanya, saat rapat Pemprov-Pemkot pekan lalu, diputuskan penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh. “Selama ini ‘kan ditangani satu-satu dulu, tidak menyeluruh. Sehingga, banjir masih terjadi,” katanya.
Kata dia, penyebab utama banjir di Samarinda besar disumbang oleh kondisi drainase  yang kurang bagus. Terjadi sedimentasi pada selokan, sehingga air tak bisa ditampung dan menguap ke jalan. Tak hanya karena sedimentasi, kondisi drainase yang jauh dari ideal itu disebabkan juga bangunan warga yang menutupi sebagian saluran.
Penambangan batu bara, jelas dia, tentu juga ikut berkontribusi. Karena, dari aktivitas pertambangan, terjadi pengupasan lahan, yang mengakibatkan tak ada resapan, sehingga air mengalir lebih cepat ke kawasan yang lebih rendah.

Diketahui, pada Kamis (16/2), Pemprov Kaltim dan Pemkot Samarinda bertemu membahas banjir Samarinda.  Rapat yang dihadiri Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak beserta jajarannya dan pejabat Pemkot Samarinda yang dikomando Wali Kota Samarinda Sjaharie Jaang itu membahas grand design pencegahan dan pengendalian banjir ibu kota.
Sejauh ini, provinsi telah menyiapkan dana jumbo sebesar Rp 602 miliar untuk pengendalian banjir Samarinda. Dianggarkan dengan sistem kontrak tahun jamak, biaya tersebut disiapkan bagi beberapa kegiatan.
Anggaran terbagi untuk subsistem SKM sebesar Rp 322 miliar, sistem Samarinda Seberang - Loa Janan dan Rapak Rp 181 miliar, sistem Karang Asam Rp 55 miliar, dan sistem Karang Asam Besar dan Loa Bakung Rp 44 miliar. Seluruh kegiatan ditangani Dinas PU dan Kimpraswil Kaltim. 

sumber: kaltim post
»»  READMORE...

SEHARI DUA KALI KEBAKARAN,53 RUMAH HANGUS,290 JIWA KEHILANGAN TEMPAT TINGGAL

Monday, 8 August 2011


SAMARINDA- Kebakaran besar terjadi di Jalan dr Soetomo Gang 7 dan Gang 8 Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu, sekira pukul 02.45 Wita Sabtu (6/8). Api menghanguskan 59 rumah dan sedikitnya 260 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Setelah musibah ini, pada pukul 11.30 Wita, menyusul terbakar satu rumah di Jalan PM Noor RT 38 Kelurahan Sempaja, Kecamatan Samarinda Utara. Tak ada korban jiwa dalam dua musibah di hari keenam bulan Ramadan itu. Namun kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Kebakaran di Jalan dr Soetomo diduga akibat korsleting listrik yang terjadi di tempat indekos Aneka di Gang 7 RT 39. Indekos putri ini terdiri dari 4 kamar.  “Asal mula api itu diduga dari indekos milik Bu Lina. Api terlihat menjalar dari kilometer listrik indekos itu,” ucap Sukardi, ketua RT 39.
Menurut Sukardi, indekos ini sudah dua kali terbakar, namun ini kebakaran yang terbesar. “Tujuh bulan lalu juga terbakar. Tapi satu kamar saja yang ludes beserta isinya,” ujar dia.
Kebakaran dinihari itu, kata Sukardi, api berkobar cukup besar dan cepat menyebar karena kebanyakan bangunan dari kayu, sehingga sulit dipadamkan. “Angin sangat kencang subuh tadi, sehingga arah api menyebar ke 4 RT,” imbuh Sukardi yang rumahnya terhindar dari musibah.
Dia merinci, di lingkungan RT 34 sebanyak 4 rumah yang terbakar, di RT 35 ada 17 rumah (90 jiwa kehilangan tempat tinggal), di RT 37 ada 33 rumah (150 jiwa kehilangan tempat tinggal), sedangkan di RT 39 ada 5 rumah dan menyebabkan 20 jiwa kehilangan rumah.
Dia mengungkapkan, petugas pemadam kesulitan memasuki lokasi kebakaran karena gang yang sempit dan padat penduduk. “Mobil pemadam tak bisa mendekati sumber api, sehingga warga berusaha memadamkan dengan peralatan seadanya,” ucap Sukardi.
Terpisah Camat Samarinda Ulu Achmad Raihan menyebut, kebakaran di Jalan dr Soetomo kali ini adalah yang terbesar kedua. Tahun lalu di RT 35 juga pernah terbakar dan ada puluhan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.
“Kebakaran hari ini (kemarin, Red.) masih dalam penyelidikan kepolisian. Belum diketahui pasti asal api dan pemicu api, apakah karena korsleting atau karena kompor yang belum dimatikan, apalagi ini bulan puasa aktivitas memasak bisa buat lupa,” imbuhnya.
Dia memperkirakan, kebakaran kali ini menelan kerugian sekitar Rp 3 miliar. “Warga banyak yang tak sempat menyelamatkan harta bendanya. Hanya baju di badan yang dibawa,” ucapnya.
Lina, pemilik indekos putri Aneka saat dikonfirmasi di rumahnya menyebut, meteran listrik indekos itu memang dalam keadaan rusak. ”Meteran listrik kos-kosan itu sudah beberapa kali diperbaiki, tapi sering kena bola saat anak-anak sekitar bermain. Mungkin itu sebabnya terjadi hubungan arus pendek,” jelasnya.
Lina mengaku mendengar kabar kebakaran sekitar pukul 02.30 Wita dinihari. Ketika itu dia melihat kepulan asap dan api dari rumahnya di Gang 4 di jalan yang sama. Lina menduga kebakaran tersebut akibat korsleting indekosnya.
Seorang penghuni indekos yang tak ingin disebutkan namanya juga membenarkan hal  tersebut. Dia mengakui, meteran listrik beberapa kali mengalami kerusakan akibat bola yang dimainkan anak-anak sekitar. Namun setelah diperbaiki, masih saja terkena hantaman bola dan akhirnya tidak lagi diperbaiki.
Kepala Seksi (Kasi) OperasionalPemadam KebakaranKotaSamarindaMakmurSantosomengakui pihaknya terlambat mendapatkan informasi kebakaran tersebut. Ditambah lagi lokasi kebakaran yang berada dalam gang yang sempit dan jauh dari jalan besar. Kerumunan warga juga sempat menghambat petugas memadamkan api.
“Lokasi kejadian memang cukup jauh dari jalan besar sehingga menyulitkan kami memadamkan api. Kami bahkan sampai menyambung tiga slang panjang untuk mengalirkan air ke lokasi kejadian,” tuturnya. Makmur mengerahkan 25 unit mobil pemadam kebakaran, termasuk  mobil pemadam kebakaran milik swasta.
Saat api berkobar, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang turut menyaksikan langsung di tengah kerumunan warga. Dia bahkan sempat kesal ketika melihat petugas kebakaran lamban memadamkan api. Syaharie melalui Kabag Humas Pemkot Erham Yusuf menuturkan prihatin atas kejadian tersebut.
“Saat itu Pak Jaang bersiap untuk melakukan sahur. Ketika mendengar ada kebakaran, beliau bergegas memantau kejadian didampingi ajudan,” ujar Erham. Menurut Erham, Jaang memang kerap memantau langsung kebakaran. Setelah memantau kebakaran, Jaang salat subuh di salah satu masjid, tak jauh dari lokasi kejadian.
Sementara itu Kanit Reskrim Samarinda Ulu Ipda Kadiyo mengatakan, saksi Sukardi yang menjadi ketua RT 39 menyebutkan api berasal dari indekos milik Lina. “Kebakaran diduga akibat korsleting listrik di indekos yang tak ditinggali pemiliknya. Pemiliknya (Lina, Red.) tinggal di gang sebelah (Gang 4, Red.),” ucapnya.
Sedangkan kebakaran di Jalan PM Noor menghanguskan sebuah rumah dan satu konter penjualan pulsa milik Gunawan (41). Rumah yang terbakar ditinggali 5 jiwa. “Saat kebakaran, rumah dalam keadaan kosong. Penghuninya berjualan sekitar 50 meter dari rumah itu,” beber Kapolsek Samarinda Utara Kompol Brahmati Agus.
Dia mengatakan, selain bangunan rumah berisi perabotan dan barang berharga, dua sepeda motor juga ikut hangus. “Rumah tersebut tak ada listriknya, jadi diduga api menyala dari tungku kayu bakar yang belum padam,” tuturnya

sumber: Kaltim post
»»  READMORE...

AWAN PANAS LOKON MASIH MENGANCAM

Tuesday, 19 July 2011
BERBAHAYA: Asap terus mengepul dari kawah Gunung Lokon.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengucurkan dana darurat Rp 500 juta, untuk penangan letusan Gunung Lokon. Pasca letusan Minggu kemarin (17/7), BNPB mencatat ada 5.205 jiwa yang mengungsi. BNPB masih belum mencabut status awas terhadap gunung yang berada di Kota Tomohon, Sulawesi Utara itu.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat dihubungi kemarin, menuturkan kronologi letusan gunung dengan ketinggian 1.580 meter tersebut. Dia menjelaskan, letusan terjadi sekitar pukul 10.34 WITA atau 09.34 WIB. Dia mengatakan, letusan Gunung Lokon kali ini terpantau setinggi 3.500 meter. Bisa dibayangkan, tinggi letusan itu setara dengan 25 kali tinggi monas yang tingginya 137 meter.
Sebelum meletus hebat kemarin, Sutopo menjelaskan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekam aktivitas vulkanis Gunung Lokon. Di antara pada Sabtu (16/7) petang hingga dini hari (18.00-00.00 WITA) tercatat ada 4 kali gempa vulkanik dalam, 16 kali gempa vulkanik dangkal, 4 kali embusan asap. Selain itu juga ada letusan pukul 19.32 WITA yang mengakibatkan munculnya asap tebal yang membubung hingga 150 meter.
’’Intinya hingga saat ini aktivitas kegempaan Gunung Lokon masih tinggi dan masih berpeluang meletus,’’ tegas Sutopo yang mengaku sedang di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado. Untuk itu, PVMBG masih belum mencabut status awas di gunung yang pernah meletus besar pada 1991 itu. Aktivitas vulkanologi juga belum menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti.
Sutopo mengatakan, sejak 10 Juli lalu status Gunung Lokon ditingkatkan dari siaga ke awas. Dia masih belum berani memperkirakan sampai kapan status gunung ini bakal diturunkan. Karena masih berstatus awas, Sutopo menuturkan jika saat ini pemerintah setempat sedang menjalankan proses tanggap darurat bencana letusan Gunung Lokon.
Sampai saat ini, BNPB telah melakukan intervensi dengan menurunkan bantuan uang, barang, dan tenaga. Sutopo menguraikan, pihaknya telah menyalurkan bantuan uang tunai kepada Pemkot Tomohon sebesar Rp 300 juta. Sutopo berharap uang ini segera dipergunakan. ’’Jika sudah habis dan masih kurang, pemkot bisa mengajukan permohonan lagi ke BNPB,’’ sambungnya.
Selain itu, BNPB juga memberikan pasokan logistik seperti bahan makanan, perlengkapan istirahan, dan peralatan darurat lainnya senilai Rp 200 juta.Selanjutnya, BNPB juga telah menerjukan tim reaksi cepat yang terdiri dari sepuluh orang. Tim ini di antaranya diambil dari Deputi Logistik dan Peralatan serta Deputi Penanganan Darurat BNPB. ’’Tim dari BNPB bekerjasama dengan tim dari daerah. Prioritas kami adalah penanganan pengungsi dan warga sekitar letusan,’’ tutur Sutopo.
Untuk penanganan warga di sekitar letusan, tim memetakan lokasi rawan menjadi dua jenis. Pertama, mulai dari pusat letusan atau kawah Gunung Lokon hingga radius 3,5 kilometer. Di radius yang berpotensi terdampak lahar dan awan panas ini, terdapat 12 ribu orang saat gunung meletus.
Sutopo menjelaskan, tidak seluruh penduduk di radius pertama ini diungsikan. Sebab, ada penduduk yang dinyatakan aman dari dampak letusan karena terhadang badan gunung. ’’Posisi kawah tidak persis di pucuk, tapi agak turun,’’ kata dia.
Peta rawan kedua adalah yang berada di radius mulai dari 3,5 kilometer hingga 5 kilometer. Sutopo menjelaskan, di radius ini berpotensi dihujani batu pijar yang dimutahkan dari perut Gunung Lokon dan semburan debu pasir yang cukup pekat. Di radius ini jumlah penduduk juga mencapai belasan ribu.
Meskipun bahaya pasca letusan yang cukup besar, Sutopo mengatakan hingga kemarin sore tidak ada catatan korban jiwa. ’’Korban luka-luka juga nihil,’’ kata dia. Kondisi ini terjadi karena Gunung Lokon sebelumnya sudah meletus pada Kamis (14/7) lalu dan statusnya masih awas. Jadi, masyarakat setempat sudah waspada.
Kondisi pengungsi yang jumlahnya mencapai 5.205 jiwa cukup baik. Sutopo melaporkan jika seluruh pasokan logistik untuk seluruh pengungsi itu dalam kondisi baik.
Dia menambahkan, hari ini 3.947 jiwa pengungsi yang tersebar di empat titik pengungsian akan direlokasi. Pasalnya, mereka menggunakan sekolahan sebagai tempat pengungsian. Empat sekolah itu adalah SMA Kristen Binous, SMA Kristen 1 dan 2, SMPN 1 Tomohon, dan SD GMIM (Gereja Masehi Injili Minahasa). ’’Besok (hari ini, red) sekolahan itu kan digunakan untuk belajar,’’ kata Sutopo.
Tim tanggap darurat sudah memiliki mekanisme relokasi pengungsi tersebut. Diantaranya, pengungsi dengan kelompok rentan seperti cacat, lansia, dan ibu hamil, serta balita beserta keluarganya akan ditempatkan di Universitas Manado (Unima). Tercatat pengungsi kelompok ini sejumlah 991 orang. Sisa pengungsi lainnya, akan ditempatkan di 23 titik balai desa.
Sutopo menuturkan, pengungsi sudah diberikan informasi tentang kondisi di relokasi. Diantaranya, informasi ketersediaan dapur umum, transportasi, pos kesehatan, dan kelengkapan-kelengkapan lainnya.

sumber : Kaltim post
»»  READMORE...

LOKON BELUM LETUSAN UTAMA

Sunday, 17 July 2011
 Setelah proses erupsi (Letusan, red) yang disertai muntahan lava pijar Kamis (14/7) malam pukul 23.30 Wita, Jumat (15/7) kemarin Gunung Lokon kembali terjadi dua kali erupsi. Erupsi pertama terjadi pukul 16:52 Wita yang ditandai keluarnya kepulan asap putih dari kawah Tompaluan. Tak berselang lama, pukul 18:34 Wita, erupsi kembali terjadi tapi skalanya tidak terlalu besar.
Menurut Kepala Pos Pemantau Gunung Lokon, Farid Bina, letusan yang terjadi kemarin masuk kategori kecil atau tidak sedahsyat letusan Kamis malam yang mengeluarkan lava pijar dengan tinggi kurang lebih 1500 meter.
Hanya saja, ungkap Farid, pihaknya belum mengetahui apakah letusan itu sudah merupakan letusan utama atau tidak. “Belum bisa dipastikan. Semua tergantung tekanan energi yang berasal dari dalam kawah,” terangnya seraya menambahkan erupsi masih berpeluang terjadi karena aktivitas kegempaan masih terlihat signifikan di sesmograf.
Mengenai letusan dahsyat pada Kamis malam, Farid menyebut itu terjadi karena akumulasi energi dari dalam kawah selama 16,5 jam. “Puncaknya terjadi pada Kamis malam itu,” ungkapnya.
Farid menjelaskan, saat ini Lokon masih mengeluarkan hembusan-hembusan asap dalam bentuk letusan kecil, sebagai bentuk pelepasan energi yang tersimpan di dalamnya.  “Karakteristik Gunung Lokon tidak sama dengan Gunung Merapi, Karangetang dan Soputan. Tiga gunung tadi bisa membentuk kuba lava,” ungkapnya.
Terkait dengan aktivitas Lokon yang kadang meletus di malam hari, Farid menyebut hal itu kebetulan saja. “Letusan tidak memandang jam dan waktu. Semua tergantung energi yang terkumpul di dalamnya,” jelasnya sambil tersenyum.
Warno, anggota pos pemantau Gunung Lokon menegaskan, letusan yang terjadi Kamis malam belumlah sehebat  1991 silam. Saat itu ada seorang pendaki gunung asal Swiss Viviane Clavel yang tewas dan jasadnya sampai sekarang tak ditemukan karena tertimbun debu.
“Belum hebat letusannya. Malah abu vulkanik tidak sampai ke warga karena ditiup angin,” terangnya. Diketahui, wilayah yang terkena semburan debu vulkanik Gunung Lokon adalah Desa Ranotongkor, Lolah, Lemoh, Tateli, dan beberapa desa lain di Kecamatan Tombariri dan Pineleng, Minahasa.
Pantauan koran ini di Kelurahan Kinilow I, masih banyak warga yang melakukan aktivitas biasa seperti pergi berkebun. Hanya saja akses jalan ke Gunung Lokon di Kelurahan Kakaskasen I sudah dijaga anggota Linmas. “Untuk sementara ditutup,” terang Berty Rompis dan Janny Tamaka yang menjaga pos di Kakaskasen 1 Lingkungan IV.
Sementara, pengungsi di sekolah-sekolah bakal “diekspor” ke lokasi pengungsian lain. Pasalnya kehadiran warga di sekolah dinilai akan mengganggu kegiatan belajar mengajar yang dimulai Senin pekan depan. Pemkot Tomohon sendiri mulai menginventarisasi sejumlah lokasi seperti aula kantor lurah, gedung-gedung perguruan tinggi dan gedung besar lainnya.
“Pengungsi akan dipindahkan dalam waktu dekat karena sebagian sekolah akan mulai proses belajar mengajar. Saat ini balai kelurahan menjadi alternatif utama,” terang Plt Sekkot Tomohon Drs Arnold Poli SH MAP saat memimpin rapat koordinasi yang diaksanakan di Pos Komando Tanggap Darurat Letusan Gunung Lokon di Eks Rindam Kakaskasen III, Jumat (15/7), kemarin.
Terkait dengan dampak Lokon jika meletus seperti 1991, Poli menukas pendek. ”Pastinya Pemkot siap mengevakuasi besar-besaran khususnya yang tinggal di daerah Tomohon Utara,” tegasnya.
Kabag Humas Pemkot Tomohon Ruddie Lengkong SSTP menambahkan, selain taman kota yang menampung 883 pengungsi, sebanyak 4544 pengungsi yang tersebar di enam lokasi pengungsian rencananya akan direlokasi,. “Ada sekira 3661 jiwa akan dipindahkan ke tempat pengungsian lainnya,” kuncinya. 


sumber: Manado Post
»»  READMORE...

"Katanya Desa Warembungan Dilindungi Tatawiran dan Opo Lokon"



"Banyak cerita mitos di masa lampau yang sedikit menguak misteri mengapa saat gunung Lokon menyemburkan debu vulkanik, desa Warembungan selalu terlindung dari semburan debu vulkanik. Ternyata menurut mitos desa ini punya keterikatan hubungan cukup kuat dengan Tatawiaran maupun Opo Lokon yang dipercayai sebagai penjaga gunung Lokon."

Didorong rasa penasaran dengan cerita dan mitos yang berkembang di antara masyarakat desa Warembungan, Tribun Manado kemudian mencoba mencari informasi dari tetua kampung desa Warembungan.

Setelah menelusuri kampung yang masih masuk dalam wilayah kecamatan Pineleng ini, sekitar 15 menit akhirnya Tribun Manado bertemu seorang tetua kampung yang tahu banyak soal cerita mitos yang berkembang mengenai misteri mengapa tidak akan pernah terjadi hujan debu vulkanik di Warembungan saat Lokon beraksi.

Opa Laurens Tulus. Dialah satu diantara tetua kampung desa Warembungan yang mengerti dengan jelas cerita mitos ini. Di usianya yang menginjak 74 tahun, Opa Laurens masih mampu mengingat dengan jelas cerita orang tuanya di masa lalu mengenai keterikatan kuat hubungan antara desa Warembungan dengan gunung Lokon.

"Waktu saya masih kecil orang tua  selalu mengingatkan dengan tegas agar tidak melakukan hal-hal yang jahat dan tidak terpuji," ungkap Opa Laurens membuka perbincangan.

Alasannya menurut Opa Laurens, jika di desa Warembungan ada pemuda atau pemudi desa yang salah pergaulan atau sengaja melakukan hal-hal yang tidak bermoral maka gunung Lokon pasti meletus. "Menurut orang tua saya, setiap Lokon meletus pasti ada dosa atau kesalahan yang dilakukan warga, maka kami selalu diingatkan agar selalu menjaga sikap terutama menjelang dewasa," ungkapnya.

Dan memang terbukti, di waktu lalu, jika khususnya di kampung Warembungan ada warga desa yang kedapatan melakukan kesalahan atau kejahatan maka gunung Lokon pasti menyemburkan debu atau lava pijar. "Dan itu memang benar terjadi. Setiap ada warga yang buat kesalahan pasti Lokon bereaksi," tutur Opa Laurens.

Hanya saja menurut Opa Laurens, meskipun gunung Lokon meletus dengan kekuatan besar sambil menyemburkan material debu vulkanik tetapi desa Warembungan selalu terlindungi dari debu maupun terjangan material vulkanik lainnya. "Itu kata orang tua karena Warembungan dilindungi oleh Tatawiran yang menurut cerita merupakan mertua dari Lokon," ujar Opa Laurens.

Gunung Tatawiran yang saat ini lebih dikenal dengan kawah aktifnya Tampoluan, dipercayai tua-tua Warembungan dulu sebagai pelindung warga desa Warembungan dari semburan debu vulkanik gunung Lokon. "Itulah mengapa sejak dari dulu desa ini tidak pernah kena debu vulkanik, kalaupun ada pasti sangat sedikit," ungkap Opa Laurens.

Selain itu, menurut cerita juga dari tetua kampung Warembungan di masa silam terdapat ikatan psikologis yang sangat kuat antara desa Warembungan dengan Opo Lokon yang dipercayai sebagai penjaga utama gunung Lokon. "Tua-tua dulu punya hubungan erat sekali dengan Opo Lokon karena orang warembungan juga adalah orang Tombulu asli yang terkenal sangat dekat dengan Opo Lokon. Makanya tua-tua dulu sering membawa sesajen untuk Opo Lokon," tutur Opa Laurens.

Karena ikatan yang terjalin sangat erat inilah, maka saat gunung Lokon beraksi, Warembungan selalu terlindung dari dampak buruk berkat perlindungan dari Tatawiran yang dipercaya sebagai mertua Lokon serta Opo Lokon yang dipercaya juga sebagai penjaga Lokon juga penjaga warga desa Warembungan.

Jika suatu ketika ternyata ditemukan ada salah seorang warga entahkan dia warga Warembungan atau warga desa di wilayah lain yang masih merupakan keturunan orang Tombulu melakukan kesalahan fatal atau suatu kejahatan sehingga Lokon meletus, maka tua-tua kampung desa Warembungan akan berkumpul di suatu tempat yang saat ini dinamakan kampung baru untuk menyerahkan sesajen sebagai tanda perminataan maaf dan ampun atas kesalahan warga yang mengakibatkan Lokon mengamuk.

"Tua-tua akan membawa sesajen sebagai tanda minta ampun juga sapu lidi yang akan digunakan untuk mengusir bala keluar dari kampung," ungkap Opa Laurens.

Hal ini menurut Laurens harus dilakukan tua-tua kampung, karena saat Lokon mengamuk akibat kesalahan fatal yang dilakukan warga desa membuat roh-roh jahat berkumpul dan memenuhi kampung. "Itulah mengapa, saat Lokon menyembur waktu lalu dalam seminggu bisa terjadi lebih dari tiga kali kematian warga desa, hal ini dipercayai karena ulah roh jahat, makanya harus diusir," ucap Opa Laurens.

Ritual ini menurut Opa Laurens masih dilakukan sampai tahun 1950 an. "Sejak saat itu sampai sekarang sudah tidak dilakukan lagi," ungkapnya.

Meskipun saat ini kepercayaan mengenai mitos ini makin pudar di kalangan warga desa Warembungan, tetapi cerita mitos tetap masih hangat dibicarakan dan diceritakan di antara warga saat Lokon meletus." Meskipun saat ini pemikiran warga makin terbuka mengenai letusan gunung Lokon, tetapi cerita mitos ini tetap terdengar dan dibicarakan warga saat Lokon meletus, meskipun hanya sampai di cerita saja," tutur Opa Laurens yang  tetap meyakini mitos dan cerita orang tua di masa lalu ini tidak akan pernah dipisahkan dari perjalanan hidup warga desa Warembungan.


sumber:Tribun Manado
»»  READMORE...

Aktifitas Gempa Vulkanik Lokon Menunjukkan Peningkatan

Friday, 15 July 2011
(Gunung lokon meletus)
Pasca letusan dengan muntahan lava pijar Kamis (14/7) sekitar pukul 23.31 Wita, Gunung Lokon kembali menunjukkan trend peningkatan aktifitas kegempaan hingga Jumat (15/7) pukul 11.30 Wita. Sejak pukul 00.45 Wita hingga kini tak terjadi letusan abu vulkanik maupun lava pijsar.

Sejak pukul 00.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita tercatat terjadi 193 kali gempa terdiri dari 77 kali gempa vulkanik A dan 116 vulkanik B. "Letusan masih berpeluang terjadi karena aktifitas kegempaan masih terlihat signifikan di sesmograf," ujar Farid Bina, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon kepada Tribun Manado.



sumber; Tribun Manado
»»  READMORE...

Serpihan Pesawat Airbus A380 Berjatuhan di Batam

Thursday, 4 November 2010





sumber: TOW
»»  READMORE...

Pengungsi Merapi Capai 69.000 Orang

Wednesday, 3 November 2010
LAVA PIJAR, Guguran lava pijar keluar dari puncak Gunung Merapi pada pukul 20.00 WIB tadi malam, terlihat dari Dusun Hargobinangun, Sleman, DIY.

Aktivitas Gunung Merapi yang tidak pernah berhenti sejak erupsi pertama pada 26 Oktober lalu membuat ribuan warga di kawasan gunung teraktif di dunia tersebut meninggalkan kampung halamannya. Tercatat, hingga kemarin pengungsi korban Merapi melonjak dari 13.500 orang menjadi 69.000 orang. Mereka tersebar di barak pengungsian di Kabupaten Sleman, Yogyakarta; Kabupaten Magelang; Kabupaten Klaten; dan Kabupaten Boyolali,Jawa Tengah. 

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menjamin bahwa pemerintah bisa melayani pengungsi Merapi. Untuk diketahui, selain Merapi, saat ini pemerintah juga menanggung pengungsi korban gempa dan tsunami Mentawai, Sumatera Barat dan banjir bandang di Wasior, Papua Barat.“Pemerintah terus berupaya untuk penanganan para korban bencana mulai dari tahap tanggap darurat hingga masa pembangunan kembali,”katanya. 

Kondisi pengungsi Merapi mendapat perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Kemarin Presiden mengunjungi pengungsi di tempat pengungsian Tanjung, Muntilan,Kabupaten Magelang. Kepada para pengungsi, Presiden meminta mereka bersabar karena tempat penampungan sementara tidak seperti keadaan di rumah. Tapi, dia menjanjikan pemerintah akan memberikan layanan berupa makanan, obat-obatan, dan bantuan lainnya agar diterima dengan baik. 

“Pemerintah pusat juga membantu pemerintah daerah menjalankan tugas-tugasnya,” katanya. Turut serta dalam kunjungan tersebut Ibu Negara Ani Yudhoyono dan rombongan antara lain Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh,Menpora Andi Mallarangeng, Kepala BNPB Syamsul Maarif, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, dan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo. 

Sebelumnya saat memberi arahan kepada jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Bandara Ahmad Yani,Semarang, Presiden meminta pemerintah daerah untuk tidak lengah dengan penanganan tanggap darurat sampai aktivitas Gunung Merapi benar-benar tidak lagi membahayakan warga.“Jangan lengah, jangan lalai, harus sampai tuntas, sampai selesai aktivitas Merapi, sampai saudara-saudara kita kembali ke tempat masing-masing,” ujarnya. 

Setelah tahap tanggap darurat selesai, lanjut Presiden, pemerintah provinsi pun harus melakukan tahap rehabilitasi seperti memperbaiki bangunan rusak dan membersihkan tempat yang tertutup abu vulkanik. “Biasanya ada berkah kesuburan tanah yang bisa dimanfaatkan oleh penduduk,”ujarnya. Dalam arahannya,Presiden juga mengimbau para kepala daerah untuk tetap berada di daerahnya masing-masing dan secara langsung turun ke lapangan guna memantau penanganan bencana.

“Jangan ketika saya datang ada di situ, tapi begitu saya kembali,gubernurnya kembali, bupatinya kembali, diserahkan hanya kepada camat. Bukan itu kepemimpinan yang baik,”ujar Presiden. Hingga kemarin, penanganan terhadap pengungsi Merapi berjalan dengan baik, termasuk suplai kebutuhan makanan. Seperti di wilayah Jawa Tengah, ketersediaan logistik dipastikan aman untuk lima hingga tujuh hari ke depan. 

Bahkan, persediaan beras sebanyak 460 ton sewaktu-waktu bisa ditambah dari Perum Bulog. Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Yogyakarta juga menyediakan cadangan 100 ton beras. Sebelumnya Bulog Yogyakarta sudah menyalurkan 100 ton beras untuk Pemkab Sleman selama masa tanggap bencana.Kepala Perum Bulog Divre Yogyakarta Murino Mudjono mengatakan, total beras yang disalurkan Bulog untuk tanggap bencana sebanyak 700 ton beras, masing-masing kabupaten/kota mendapatkan 100 ton beras. 

Kepala BPBD Jawa Tengah Priyantono Djarot Nugroho menuturkan, selain beras, kebutuhan logistik lainnya yang telah disalurkan kepada para pengungsi juga sudah banyak,seperti family kit(keperluan keluarga) dan keperluan mandi. Sejumlah lembaga juga telah mengucurkan bantuannya,seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Sosial, Kementerian BUMN, Kementerian Kesehatan, dan sejumlah lembaga pemerintah maupun swasta. 

“Untuk bantuan kesehatan,kita telah mendirikan 72 pos kesehatan yang berada di lokasi pengungsian di tiga daerah itu.Di Kabupaten Magelang sebanyak 55 pos kesehatan, Boyolali ada 12 pos kesehatan, dan lima pos kesehatan lagi di Klaten. Masing-masing pos terdiri atas empat dokter,perawat, bidan,dan mobil ambulans,’’ papar Priyantono. Bantuan non-logistik juga sudah banyak berdatangan, seperti layanan psikososial anak yang dilakukan Kementerian Sosial, layanan luka traumatik (trauma healing) yang digelar Universitas Diponegoro Semarang,hingga hiburan badut.

Namun, bukan berarti pengungsi tidak ada masalah. Sejumlah penyakit mulai mengancam mereka, di antaranya hipertensi. Hal ini seperti dialami 86 pengungsi letusan Gunung Merapi di barak pengungsian Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. “Setelah lebih dari satu minggu warga berada di barak pengungsian, mereka mulai mengeluhkan sejumlah serangan penyakit dan pada umumnya yang berusia di atas 40 tahun mulai terserang hipertensi,” kata kemarin. 

Selain hipertensi, pengungsi mengalami pegal-pegal (87 orang), infeksi saluran pernapasan akut (81 orang),sakit kepala (61 orang), (mual 39 orang),dan gatal-gatal (39 orang). “Serangan hipertensi ini memang banyak menyerang kalangan pengungsi. Mungkin dipicu karena mereka merasa jenuh,stres saat proses evakuasi, dan masalah pikiran terkait harta benda, ternak serta rumah yang ditinggal mengungsi, ”katanya. 

Pasangan suami istri yang mengungsi juga mengeluhkan tidak adanya bilik khusus untuk mereka. Menurut Surono, 45, warga Desa Sidorejo,Kecamatan Kemalang, mengaku harus pisah dengan istrinya di lokasi pengungsian. Sejak seminggu lalu, dirinya harus menahan hasrat untuk menggauli sang istri. “Bagi kami yang sudah menikah, ruangan khusus itu penting. Sebab, kami mempunyai kebutuhan lain,”ujar Surono. 

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta warga bersabar tinggal di pengungsian. Dia menegaskan, situasi tanggap darurat bencana erupsi Gunung merapi masih akan terus diberlakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan.Menurut Sultan, kondisi Gunung Merapi hingga saat ini masih sangat berbahaya sehingga masyarakat diwajibkan untuk tinggal di pengungsian. 

“Pokoknya kalau Pak Surono (Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) belum menyatakan aman, ya masih tetap tanggap darurat,”ujarnya di Kepatihan kemarin. Selama situasi ini, lanjutnya, pemerintah bisa menggunakan dana dalam APBD untuk penanganan pengungsian. Bukan hanya dana tak terduga yang biasanya digunakan untuk penanganan bencana, namun dana dalam pos lain untuk sementara juga bisa dialihkan pada pos tanggap darurat. Sebelumnya direncanakan situasi tanggap darurat akan dilaksanakan selama 14 hari terhitung sejak erupsi pertama Gunung Merapi,26 Oktober lalu. 

Lava Pijar 

Sementara itu, lava pijar sebagai awal terbentuknya kubah baru di puncak Gunung Merapi mulai terlihat. Mulai sekitar pukul 18.50 WIB tadi malam lava pijar muncul dengan disertai beberapa guguran ke arah Kali Gendol.Munculnya lava pijar tersebut terlihat sangat jelas dalam CCTV di Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. 

Kepala BPPTK Yogyakarta Subandriyo mengatakan,munculnya lava pijar ini sebagai awal terbentuknya kubah baru Merapi. “Jika konstan dan hanya disertai guguran-guguran, maka lava pijar itu kemudian akan menjadi kubah baru,”ungkapnya tadi malam. Menurut dia,munculnya lava pijar juga membuat awan panas yang keluar tidak sebesar sebelumnya. Pasalnya, kandungan gas yang berada di perut Merapi energinya tidak besar sehingga berpotensi tidak terjadi letusan eksplosif.“

Namun, kubah baru yang terbentuk itu juga berpotensi menyumbat keluarnya gas atau awan panas karena terbentuknya di bagian barat puncak,”ungkapnya. Aktivitas Merapi seharian ke- marin didominasi guguran dan gempa multifase. Sejak pagi sampai siang juga terjadi delapan kali awan panas dengan jarak luncur 3,5 kilometer ke arah Kali Gendol. 

Guguran awan panas ini relatif lebih kecil dibanding sebelumnya. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM R Sukhyar mengungkapkan, pada pagi hari awan panas kembali meluncur namun tidak disertai dentuman. Ini menandakan energi yang dilepaskan lebih kecil dibanding energi pada letusan sebelumnya. “Awan panas tersebut murni berasal dari magma yang runtuh,”katanya di Yogyakarta. Menurut dia, jika hal tersebut terus berlangsung maka kondisi Merapi semakin baik. 

Karena dengan begitu,Gunung Merapi melepaskan energinya dalam skala kecil sehingga tidak menimbulkan erupsi eksplosif.Menurut dia, guguran awan panas sebagian besar menuju Kali Gendol dengan jarak luncur sekitar 3,5 kilometer dengan ketinggian asap sekitar 700 meter. Sukhyar menambahkan, meski guguran awan panas relatif kecil dibanding sebelumnya, bukan berarti kondisi Merapi sudah aman. Dia menegaskan, status Merapi masih pada level awas (IV) sehingga radius 10 km dari puncak Merapi harus tetap steril dari aktivitas warga.


sumber:SI
»»  READMORE...

96 korban Tsunami Mentawai belum ditemukan

Monday, 1 November 2010
pasca tsunami Mentawai

Sebanyak 96 orang korban gempa dan tsunami yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, belum ditemukan Tim Search And Rescue (SAR).

"Data yang dihimpun, sebanyak 96 orang korban tsunami yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, belum ditemukan Tim SAR," kata Kepala Bidang Penanggulangan Bencana BPBD Sumbar, Ade Edwar, di Padang, Senin.

Gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter disusul gelombang tsunami yang terjadi di Kabupaten Kepuluan Mentawai pada Senin (25/10), menyebabkan sekitar 449 orang meninggal dunia.

Korban yang mengalami luka-luka ketika terjadi gempa dan Tsunami yakni 270 orang mengalami luka berat, 142 orang kondisi luka ringan. Warga yang berada pada tempat pengungsian sebanyak 14.983 jiwa

Rumah warga yang rusak akibat gempa dan tsunami sebanyak 517 unit kondisi rusak berat, 204 unit rumah rusak ringan, rumah dinas 4 unit, 2 unit rusak berat Resort, 1 unit kapal pesiar terbakar, 1 unit kapal pesiar rusak ringan.

Sementara fasilitas umum yang rusak, ketika terjadi gempa dan tsunami yakni jembatan 7 unit, jalan P2D rusak sepanjang 8 km.

Ade Edwar mengatakan, saat ini ada tiga orang korban tsunami terjadi di Kabupaten Kepuluan Mentawai yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat M Jamil Padang.

"Korban menjalani perawatan yakni, Nelli (19) warga Malakopak, Pardamaian (26) warga Dusun Eruk Parabout, Desa Malakopak, Melda Yanti (12) warga Muntee, Kabupaten Mentawai," katanya.

Satu orang bayi lahir pascagempa dan tsunami di Kabupaten Mentawai, yang belum diberi nama oleh kedua orang tuanya meninggal dunia di Rumah Sakit Umum M Jamil Padang.

Dia menambahkan, pasien bernama Nelli (19) setelah melahirkan di Desa Malakokap, Kabupaten Kepuluan Mentawai, harus menjalani perawatan di Rumah Sakit M Jamil, Padang. Sementara dua orang lagi, yakni Melda Yanti (12) mengalami luka pada bagian pinggang sebelah kiri.

"Sedangkan pasien bernama Pardamaian (26), warga dusun Eruk Parabout, desa Malakopak mengalami trauma tumpul (perlukaan pada abdomen tanpa penetrasi ke dalam rongga peritoneum,red) diakibatkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselarasi (perlambatan),"kata Ade Edwar.

Saat ini Pardamian berada di ruang RR rumah saki M.jamil Padang. Pihak Rumah Sakit M.Jamil Padang, belum melakukan operasi pada Perdamian, melihat dulu kondisi pasien.

Tim SAR serta dibantu para relawan masih terus melakukan pencarian terhadap korban meninggal dunia maupun warga hilang, serta menyalurkan bantuan yang telah diterima dari sejumlah pihak baik pemerintah, swasta, maupun LSM.

sumber:TO

»»  READMORE...

Demi Mentawai, Dua Jam Terapung di Laut

Sunday, 31 October 2010
Petugas PLN membantu para korban gempa 7,2 SR dan tsunami di pengungsian di Desa Saumanganyak


Gelombang besar disertai angin kencang di sekitar Perairan Pantai Mentawai, Sabtu tidak menyurutkan niat para petugas PLN membantu para korban gempa 7,2 SR dan tsunami di pengungsian di Desa Saumanganyak, Mentawai, Sumbar.
"Kami mesti tetap berangkat untuk membawa genset, walaupun cuaca buruk. Warga Mentawai di tempat-tempat pengungsian sangat membutuhkan listrik. Tujuan kami hanya satu membantu warga yang dilanda musibah," kata Jhon, satu dari karyawan PLN.
BMKG saat itu memang meramalkan akan terjadi gelombang besar disertai angin kencang di Kabupaten Mentawai.
Gelombang laut setinggi empat meter dan hujan lebat itu diperkirakan akan berlangsung selama empat hari mendatang.
Namun, demi menolong korban gempa dan tsunami Mentawai, mereka tetap berangkat, hingga akhirnya satu dari dua kapal yang membawa genset itu dihantam ombak.
John mengakui saat berangkat dari Pelabuhan Sikakap, sekitar pukul 13.30 WIB, cuaca mulai buruk.
"Kami tahu cuaca memang memburuk, tapi kami tidak menyangka jika gelombang sedemikian besar," katanya.
Ketika berada di tengah laut, tiba-tiba datang gelombang besar disertai angin kencang. Kapal yang berisi lima penumpang itu dihantam gelombang yang mencapai tiga meter, dan terbalik.
Kapal lainnya yang sama-sama berangkat dari Pelabuhan Sikakap, selamat dari hantaman gelombang besar.
"Semua barang milik PLN dan barang lain di atas kapal tenggelam. Beruntung semua penumpang selamat," kata Jhon.
Setelah dua jam terapung-apung di perairan Pantai Mentawai, Tim SAR yang mendengar ada kapal terbalik, segera memberikan pertolongan.
"Kami sangat berterima kasih karena nyawa kami dapat tertolong setelah Tim SAR mengevakuasi penumpang kapal," katanya.
Ketika itu, ada dua kapal yang berangkat dari Pelabuhan Sikakap untuk membawa genset ke tempat pengungsian. Kapal Long Boat, yang berisi 15 penumpang, selamat dari hantaman gelombang besar.
Kapal Long Boat dapat bersandar kembali sekitar pukul 19.00 WIB, setelah gelombang besar surut.
Kapal Long Boat bersandar di Desa Saumanganyak membawa genset PLN serta peralatan lain

sumber:TK
»»  READMORE...

Korban Tewas Mentawai Sudah 413 Jiwa

Sejumlah bangunan di Kampung Bosuwa Desa Betumonga Pulau Sipora, Mentawai, hancur


Jumlah korban meninggal akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Kepulauan Mentawai hingga hari ini Sabtu (30/10/2010) sudah mencapai 413 jiwa.
Data resmi yang dirilis situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 10.00 WIB, jumlah total korban tersebut berasal dari 7 desa di 4 kecamatan dengan rincian 41 orang di Kecamatan Sipora Selatan, 154 orang di Kecamatan Pagai Selatan, 209 di Kecamatan Pagai Utara dan 9 orang di Kecamatan Sikakap. 
Korban meninggal yang paling banyak berada di Dusun Sabeugunggung dan Munte, Desa Belumonga, Kecamatan Pagai Utara, masing-masing sebanyak 98 orang.
Sementara itu korban hilang dilaporkan sebanyak 303, dengan korban terbanyak berada di Dusun Sabeugunggung 160 orang. Korban luka berat sama dengan data sebelumnya yaitu 270 orang dan luka ringan bertambah 20 orang menjadi 162 orang.
Berdasarkan laporan BPBD Sumatera Barat, pengungsi yang sudah terdata bertambah menjadi 12.935 jiwa, dengan sebaran 7.784 jiwa di Kec. Pagai Selatan, 3.656 jiwa di Kec. Pagai Utara dan 1.495 jiwa di Kec. Sikakap.
Dua dusun yang paling parah mengalami bencana adalah dusun Munte dan dusun Sabeugunggung, yang terletak di Desa Batumonga, Kecamatan Pagai Utara, dengan jumlah rumah rusak berat masing-masing sebanyak 74 dan 64 unit. Total rumah rusak berat di 4 kecamatan adalah 497 unit, sedangkan rumah rusak ringan sebanyak 204 unit.

sumber : TK
»»  READMORE...

Tsunami Hingga Setinggi Pohon Kelapa di Pagai Utara,Mentawai

Saturday, 30 October 2010

Dusun Muntei Baru-Baru, Desa Batumonga merupakan kampung terparah diterjang tsunami. Ini kemungkinan karena sumber tsunami berada di depan Pulau Pagai Utara tersebut.

Brenti, 40 tahun, dan seorang tetangga lelakinya dengan susah payah berjalan melewati hutan sejauh 30 km lebih 2 jam dari dusunnya menuju Sikakap, ibukota Kecamatan Sikakap di Pulau Pagai Utara pada Selasa (26/10/2010) siang.

Ia meninggalkan dusunnya, Muntei Baru-Baru, Desa Batumonga, juga di Pulau Pagai Utara karena hancur diterjang tsunami pada Senin (25/10/2010) malam. Puluhan mayat masih bergelatakan di antara puing-puing kampung yang rusak. Belum ada yang mengurus. Lebih seratus warga hilang dibawa ombak.

"Hanya sekitar 40 orang yang selamat, seluruh rumah 73 unit dan sebuah SD, semalam kami yang hidup termasuk yang luka dan bayi tidur di tengah hujan di perbukitan di belakang kampung," ujarnya Brenti seperti dikutip Supri, jurnalis Tabloid Puailiggoubat yang bertugas di Sikakap.

Brenti kehilangan istri dan dua anaknya. Mereka terseret ombak tsunami dan belum ditemukan. Tsunaminya datang dua gelombang. Gelombang pertama setidaknya setinggi 5 meter mengenai separuh kampung. Gelombang kedua jauh lebih tinggi, melewati pucuk kelapa yang tinggi. Mungkin lebih 8 meter. 

Gelombang kedua menghancurkan seisi bangunan kampung hingga ombak menghantam ke darat sejauh 800 meter dari pantai. Kedua gelombang sempat bertemu di tengah kampong, seperti tepukan tangan. Karena masing-masing menghantam dari kiri dan kanan.

Warga yang selamat, katanya, karena lari saat gelombang pertama. Ada juga yang sudah lari setelah gempa. Sedangkan warga yang tewas dan hilang karena dihantam kedua gelombang. Ada yang terseret ombak, ada yang tertimpa pohon dan runtuhan rumah.

Gempa 7,2 SR tidak begitu keras dirasa warga. Namun goyangannya lama, mereka memperkirakan 9 menit. Warga Muntei Baru-Baru sempat kembali masuk rumah karena sedang hujan. Sebagian besar merasa gempa tidak akan menimbulkan tsunami.

Tapi mereka terkejut setelah mendengar dentuman seperti pecahan ombak yang sangat keras sekitar 15 menit setelah gempa. Tiba-tiba tsunami menyapu desa mereka.

Dusun Muntei Baru-Baru hanya tinggal nama. Tak ada lagi bangunan. Rabu (27/10/2010) sore baru 80 korban tewas ditemukan dan 102 masih hilang. Hanya 40 orang yang selamat. 

Tim evakuasi sudah menguburkan jenazah para korban Rabu sore. Juga membawa sejumlah bantuan.


sumber:PK
»»  READMORE...
 
 
 

About Me

My Photo
Ernesto Silangen
samarinda, kalimantan timur, Indonesia
View my complete profile

Followers

 
Copyright © Mahakam News