Gunung Lokon di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, kembali meletus pukul 11.52 WITA dengan letusan susulan 11.56 WITA, Selasa (21/2/2012). Namun, letusan kali ini tidak sebesar letusan-letusan sebelumnya.
MP3 Clips
Labels
- bencana (44)
- budaya (1)
- demo (4)
- duniasiana (12)
- ekonomi dan bisnis (4)
- family (1)
- fauna (1)
- Internasional (21)
- iptek (4)
- kecelakaan (1)
- kesehatan (4)
- korupsi (1)
- kriminal (4)
- musibah (1)
- narkoba (2)
- nasional (76)
- olahraga (3)
- pembangunan (2)
- Piala dunia (1)
- Piala dunia 2010 (1)
- politik (25)
- premanisme (2)
- sejarah (1)
- selebritas (7)
- seputar borneo (42)
- teroris (7)
- trend (2)
- video (1)
Gunung Lokon Meletus lagi
Wednesday, 22 February 2012Gunung Lokon di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, kembali meletus pukul 11.52 WITA dengan letusan susulan 11.56 WITA, Selasa (21/2/2012). Namun, letusan kali ini tidak sebesar letusan-letusan sebelumnya.
Posted by Ernesto Silangen at 08:51 0 comments
Labels: bencana
Kebakaran dari komplek Pertamina merembat ke perkampungan
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi di lokasi kejadian, api mulai terlihat dari rumah di komplek Pertamina Nomor 409 yang ditempati Anwar. Kemudian api merembet dan membakar empat rumah lainnya.
“Dari rumah (kompleks) Pertamina, dan membakar tiga rumah milik warga di perkampungan karena letaknya berdekatan,” kata tetangga Anwar itu.
Bagi Anwar, ini merupakan kebakaran kedua yang menimpa dirinya, sebelumnya dia juga menjadi korban amukan si jago merah pada 2006 silam. “Ini rumah milik anak saya yang bekerja di Pertamina, saya disuruh tempati setelah rumah kami terbakar,” ujarnya.
Rumah milik warga lainnya yang ikut terbakar di antaranya milik Wilopo, Amat, dan Budi. Rumah nomor 16 yang ditempati Budi itu, disekat menjadi dua dan ditempati keluarga Yuni Setiawati.
Saat ditemui di Mapolsek Balikpapan Utara, Anwar mengatakan, saat kejadian dia dan istrinya sedang tidak berada di tempat, hanya menantunya saja, Rina, yang menjaga rumah. “Saya dan istri sudah keluar rumah dari pagi. Tahunya juga setelah ditelepon,” ujar Anwar.
Menurutnya, tidak ada satu pun barang berharga yang mampu diselamatkannya. “Semua terbakar, tinggal baju di badan saja,” ungkapnya.
Sementara itu, Rina kepada petugas Mapolsek Balikpapan Utara mengatakan bahwa dia melihat api berasal dari kamar yang ditempati oleh Anwar dan istrinya. “Dari kamar ibu, tapi saya tidak tahu penyebabnya,” ujarnya.
Setidaknya 12 mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api. Baru setelah sejam berjuang, si jago merah dapat dipadamkan. “Lokasi kejadian yang berbukit dan angin yang kencang menyulitkan kami untuk melakukan pemadaman,” kata Kepala Bidang Penanggulangan Bencana dan Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran (BPBK) Syafaruddin. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun kerugian materi diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Kapolsek Balikpapan Utara Kompol Putu Rideng yang dikonfirmasi mengenai penyebab kebakaran mengatakan, pihaknya masih mengumpulkan bukti-bukti. “Masih dalam penyelidikan, tapi seluruh korban sudah kami mintai keterangan,” katanya
sumber: kaltimpost
Posted by Ernesto Silangen at 08:39 0 comments
Labels: bencana
Fakta baru runtuhnya jembatan Kutai Kertanegara temuan tim investigasi
Tim investigasi bentukan Kementerian Pekerjaan Umum menuntaskan tugasnya. Sementara itu, Kepolisian Daerah Kaltim memberikan laporan sementara penyelidikan ambruknya Jembatan Kartanegara. Sayang, belum menyentuh penyelewengan yang merugikan keuangan negara. Ini gambaran lebih detail soal penyebab runtuhnya Jembatan Kartanegara pada 26 November 2011 lalu.
SEJUMLAH anggota Komisi V DPR mendadak berang. Setelah animasi yang menunjukkan detik-detik ambruknya Jembatan Kartanegara diputar, Tim Evaluasi dan Investigasi Teknik Jembatan Kukar memaparkan kesimpulannya pada Rabu siang, 8 Februari lalu.
Berlangsung di ruang rapat Komisi V di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, beberapa anggota Komisi yang membidangi pekerjaan umum itu gusar dengan kalimat penutup dari laporan tim. Kalimatnya begini, “Findings (temuan) tidak dimaksudkan untuk menyalahkan pihak tertentu tetapi mencari apa yang kurang benar dan apa yang harus diluruskan.”
Sebagian anggota Komisi berpendapat, temuan tim investigasi sejatinya menjadi dasar apa yang salah sehingga “Golden Gate Kalimantan” itu rontok dalam 20 detik. Sempat dihiasi sanggahan, rapat ini dihadiri Wakil Menteri PU Hermanto Dardak, Kepala Bareskrim Mabes Polri Komisaris Jenderal Sutarman, Kapolda Kaltim Inspektur Jenderal Bambang Widaryatmo, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, dan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari.
Dari dokumen paparan Tim Investigasi yang diperoleh Kaltim Post, runtuhnya jembatan berusia sepuluh tahun itu nyaris sama dengan hasil investigasi media ini, beberapa pekan setelah petaka 26 November 2011 itu. Tim menyimpulkan, ambruknya jembatan diduga dipicu tegangan tambahan saat pekerjaan pemeliharaan.
Pada Jumat nahas itu, PT Bukaka Teknik Utama yang mendapat proyek pemeliharaan jembatan, disebut telah mendongkrak bagian tengah bentang panjang. Awalnya, PT Bukaka mendongkrak di sisi hilir sehingga kabel hanger memendek 15 sentimeter.
Informasi ini sama dengan yang disampaikan seorang pekerja yang selamat, Muhammad Haidir. Dari dokumen pemeriksaan yang diperoleh Kaltim Post, Haidir mengatakan, badan jembatan telah diangkat dengan dongkrak hidraulik berkekuatan 200 ton. Dongkrak itu diletakkan di bawah jembatan dengan kabel penggantung sebagai porosnya. Tiga dongkrak yang digunakan juga telah diamankan Polda Kaltim sebagai barang bukti.
Haidir bercerita, setiap dongkrak naik lima sentimeter, baut yang mengikat kabel penggantung di bagian bawah jembatan harus dikencangkan. Pekerja asal Kota Bangun, Kukar ini, mendongkrak bersama tiga orang lainnya dan diawasi dua mandor dari PT Bukaka. Dua lainnya mengatur lalu lintas.
Setelah kabel penggantung di sisi hilir naik 15 sentimeter, dilanjutkan ke sebelah hulu. Uraian Tim Investigasi menyebutkan, pada saat kabel di sisi sebelah hulu diangkat, sambungan (clamp) antara batang penggantung dan kabel utama putus.
Kekuatan utama badan jembatan di antara dua menara/pylon sepanjang 270 meter itu terdapat pada 52 kabel penggantung (hanger) di kedua sisinya. Hanger itu terikat pada dua kabel utama dengan bantuan pengait (clamp), masing-masing 26 kabel di sisi hulu dan hilir.
Dengan demikian, penomoran kabel tengah --yang paling pendek--, dihitung dari sisi Tenggarong adalah di urutan tiga belas. Kabel penggantung bentang tengah inilah yang disebut Tim Investigasi yang paling pertama putus.
Menurut penjelasan tim yang terdiri dari sepuluh ahli itu, pendongkrakan jembatan menimbulkan tegangan tambahan. Saat pekerja PT Bukaka men-jack dengan menaikkan mur kabel penggantung di bawah jembatan, tegangan kabel meningkat dan melampaui kemampuan material. Akhirnya, kabel nomor 13 putus diikuti 51 kabel penggantung lainnya.
Bentang tengah yang memiliki ruang untuk lalu lintas sungai setinggi 15 meter itu terbenam ke dasar sungai dalam waktu 20 detik. Mengambil lebih 20 nyawa. “Yang saya tahu ada yang putus. Saya mendengar suara pecah yang nyaring,” kata Haidir, saat diperiksa Tim Investigasi. PT Bukaka melalui kuasa hukum mereka, sudah membantah memulai pekerjaan jacking. Mereka menyebut, baru dalam tahap persiapan.
Tim kemudian menyimpulkan, kegagalan elemen struktur pada sistem sambungan atas yaitu antara batang hanger dan kabel utama, termasuk sistem sambungan (clamp). Material sambungan yang menjadi titik lemah lintasan gaya ini terbuat dari Ductile Cast IronFCD 60. Sayangnya, belum diketahui apakah kualitas clamp buatan PT Bakrie Tonsjaya tersebut sesuai spesifikasi dalam kontrak pembangunannya. Kepada sejumlah media, si pembuat, PT Bakrie Tonsjaya, membantah mengurangi kualitas material clamp.
BANYAK SEBAB
Pekerjaan PT Bukaka, sebut Tim Investigasi, bukan satu-satunya penyebab keruntuhan jembatan. Kegagalan struktur Jembatan Kartanegara juga berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, operasional dan pemeliharaan. Temuan tim, ketidakmampuan material menahan gaya tambahan tadi juga dialami mur penutup. Di sejumlah patahan, tim menemui keretakan (fatigue), korosi, dan hanging bar yang keropos pada elemen yang mengalami kegagalan.
Keadaan diperparah lantaran kurangnya pengetahuan terhadap jembatan jenis ini, ditambah tidak meminta masukan dari praktisi. Langkah yang dilaporkan pihak perencana, telah meminta rekomendasi ahli dari Jepang melalui JICA dan konsultan PCI. “Ternyata itu membawa dampak buruk karena rekomendasinya menyalahi code of practice di dunia saat itu,” papar Ketua Tim Investigasi, Iswandi Imran, dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Anggota Komisi V DPR dari daerah pemilihan Kaltim, Hetifah Sjaifuddin Siswanda, mengatakan laporan hasil investigasi tim independen harus benar-benar dijadikan pelajaran dalam perencanaan pembangunan dan pemeliharaan. Tragedi ini, katanya, merupakan “pengorbanan” masyarakat Kutai Kartanegara yang tidak boleh dianggap sepele. “Penegak hukum harus memproses secara transparan dan akuntabel semua pelanggaran hukum yang mengakibatkan runtuhnya jembatan,” ungkap Politisi Partai Golkar ini.
MASIH PENYELIDIKAN
Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V, Kapolda Kaltim Irjen Bambang Widaryatmo juga melaporkan hasil penyelidikannya. Berkas tiga tersangka yang diduga melakukan unsur lalai, dikirimkan kepada Kejaksaan Negeri Tenggarong pada 11 Januari 2012. Ketiganya yakni Kabag Departemen Engineering Unit Usaha Jembatan PT Bukaka, MSF; Kabid Bina Marga Dinas PU Kukar, YS; serta PPTK berinisial S. Kejari menjawabnya pada 16 Januari dengan mengembalikan berkas dengan petunjuk (P19) pada 25 Januari 2012.
Itu setelah kepolisian memeriksa 63 saksi dan mengumpulkan tiga belas dokumen dan sembilan barang bukti lainnya. Untuk dugaan tindak pidana korupsi, Polda telah memeriksa seluruh APBD Kukar yang memuat proyek pemeliharaan jembatan. Sejauh ini statusnya masih penyelidikan. Dari dokumen laporan kepolisian kepada Komisi V, tidak ditemui pengecekan kualitas clamp apakah sesuai dengan spesifikasinya atau tidak.
Menurut sumber Kaltim Post yang anggota Komisi V DPR, ada beberapa kejanggalan dalam laporan ini. Sebab, hingga sekarang belum terbukti apakah clamp sesuai dengan spesifikasinya. “Sulit untuk tidak menduga ada pihak yang ingin diamankan di sini. Kami mendapat informasi, dokumen yang memuat spesifikasi itu masih disembunyikan,” katanya.
Sumber itu melanjutkan, sesuai tidaknya spesifikasi clamp sangat menentukan adanya unsur pidana. Sebab, titik lemah jembatan diduga kuat ada di sejumlah sambungan di clamp tersebut. Proses pemeliharaan yang terabaikan, katanya, juga belum menemui titik terang sehubungan unsur tindak pidana korupsi.
Sementara itu, Hetifah yang juga dari Komisi V, membenarkan pendapat sumber Kaltim Post tadi. Hetifah menuturkan, pasal itu memang sempat ditanyakan dalam rapat.
Namun begitu, hingga kini kepolisian memang belum menetapkan tersangka dalam dugaan tindak pidana korupsi jembatan ini. Tiga tersangka yang sudah ditahan, semuanya terlibat dalam pekerjaan pendongkrakan yang diatur dalam tindak pidana umum. Pekerjaan yang diduga menyebabkan petaka di kabel nomor 13.
sumber:kaltimpost
Posted by Ernesto Silangen at 08:34 0 comments
Labels: bencana
Bawa masalah banjir Samarinda ke Jakarta,harus ada tindakan hukum
Monday, 20 February 2012Diketahui, pada Kamis (16/2), Pemprov Kaltim dan Pemkot Samarinda bertemu membahas banjir Samarinda. Rapat yang dihadiri Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak beserta jajarannya dan pejabat Pemkot Samarinda yang dikomando Wali Kota Samarinda Sjaharie Jaang itu membahas grand design pencegahan dan pengendalian banjir ibu kota.
Posted by Ernesto Silangen at 17:06 0 comments
Labels: bencana
SEHARI DUA KALI KEBAKARAN,53 RUMAH HANGUS,290 JIWA KEHILANGAN TEMPAT TINGGAL
Monday, 8 August 2011Posted by Ernesto Silangen at 09:44 0 comments
Labels: bencana
AWAN PANAS LOKON MASIH MENGANCAM
Tuesday, 19 July 2011Posted by Ernesto Silangen at 09:47 0 comments
Labels: bencana
LOKON BELUM LETUSAN UTAMA
Sunday, 17 July 2011Menurut Kepala Pos Pemantau Gunung Lokon, Farid Bina, letusan yang terjadi kemarin masuk kategori kecil atau tidak sedahsyat letusan Kamis malam yang mengeluarkan lava pijar dengan tinggi kurang lebih 1500 meter.
Hanya saja, ungkap Farid, pihaknya belum mengetahui apakah letusan itu sudah merupakan letusan utama atau tidak. “Belum bisa dipastikan. Semua tergantung tekanan energi yang berasal dari dalam kawah,” terangnya seraya menambahkan erupsi masih berpeluang terjadi karena aktivitas kegempaan masih terlihat signifikan di sesmograf.
Mengenai letusan dahsyat pada Kamis malam, Farid menyebut itu terjadi karena akumulasi energi dari dalam kawah selama 16,5 jam. “Puncaknya terjadi pada Kamis malam itu,” ungkapnya.
Farid menjelaskan, saat ini Lokon masih mengeluarkan hembusan-hembusan asap dalam bentuk letusan kecil, sebagai bentuk pelepasan energi yang tersimpan di dalamnya. “Karakteristik Gunung Lokon tidak sama dengan Gunung Merapi, Karangetang dan Soputan. Tiga gunung tadi bisa membentuk kuba lava,” ungkapnya.
Terkait dengan aktivitas Lokon yang kadang meletus di malam hari, Farid menyebut hal itu kebetulan saja. “Letusan tidak memandang jam dan waktu. Semua tergantung energi yang terkumpul di dalamnya,” jelasnya sambil tersenyum.
Warno, anggota pos pemantau Gunung Lokon menegaskan, letusan yang terjadi Kamis malam belumlah sehebat 1991 silam. Saat itu ada seorang pendaki gunung asal Swiss Viviane Clavel yang tewas dan jasadnya sampai sekarang tak ditemukan karena tertimbun debu.
“Belum hebat letusannya. Malah abu vulkanik tidak sampai ke warga karena ditiup angin,” terangnya. Diketahui, wilayah yang terkena semburan debu vulkanik Gunung Lokon adalah Desa Ranotongkor, Lolah, Lemoh, Tateli, dan beberapa desa lain di Kecamatan Tombariri dan Pineleng, Minahasa.
Pantauan koran ini di Kelurahan Kinilow I, masih banyak warga yang melakukan aktivitas biasa seperti pergi berkebun. Hanya saja akses jalan ke Gunung Lokon di Kelurahan Kakaskasen I sudah dijaga anggota Linmas. “Untuk sementara ditutup,” terang Berty Rompis dan Janny Tamaka yang menjaga pos di Kakaskasen 1 Lingkungan IV.
Sementara, pengungsi di sekolah-sekolah bakal “diekspor” ke lokasi pengungsian lain. Pasalnya kehadiran warga di sekolah dinilai akan mengganggu kegiatan belajar mengajar yang dimulai Senin pekan depan. Pemkot Tomohon sendiri mulai menginventarisasi sejumlah lokasi seperti aula kantor lurah, gedung-gedung perguruan tinggi dan gedung besar lainnya.
“Pengungsi akan dipindahkan dalam waktu dekat karena sebagian sekolah akan mulai proses belajar mengajar. Saat ini balai kelurahan menjadi alternatif utama,” terang Plt Sekkot Tomohon Drs Arnold Poli SH MAP saat memimpin rapat koordinasi yang diaksanakan di Pos Komando Tanggap Darurat Letusan Gunung Lokon di Eks Rindam Kakaskasen III, Jumat (15/7), kemarin.
Terkait dengan dampak Lokon jika meletus seperti 1991, Poli menukas pendek. ”Pastinya Pemkot siap mengevakuasi besar-besaran khususnya yang tinggal di daerah Tomohon Utara,” tegasnya.
Kabag Humas Pemkot Tomohon Ruddie Lengkong SSTP menambahkan, selain taman kota yang menampung 883 pengungsi, sebanyak 4544 pengungsi yang tersebar di enam lokasi pengungsian rencananya akan direlokasi,. “Ada sekira 3661 jiwa akan dipindahkan ke tempat pengungsian lainnya,” kuncinya.
sumber: Manado Post
Posted by Ernesto Silangen at 21:55 0 comments
Labels: bencana
"Katanya Desa Warembungan Dilindungi Tatawiran dan Opo Lokon"
"Banyak cerita mitos di masa lampau yang sedikit menguak misteri mengapa saat gunung Lokon menyemburkan debu vulkanik, desa Warembungan selalu terlindung dari semburan debu vulkanik. Ternyata menurut mitos desa ini punya keterikatan hubungan cukup kuat dengan Tatawiaran maupun Opo Lokon yang dipercayai sebagai penjaga gunung Lokon."
Didorong rasa penasaran dengan cerita dan mitos yang berkembang di antara masyarakat desa Warembungan, Tribun Manado kemudian mencoba mencari informasi dari tetua kampung desa Warembungan.
Setelah menelusuri kampung yang masih masuk dalam wilayah kecamatan Pineleng ini, sekitar 15 menit akhirnya Tribun Manado bertemu seorang tetua kampung yang tahu banyak soal cerita mitos yang berkembang mengenai misteri mengapa tidak akan pernah terjadi hujan debu vulkanik di Warembungan saat Lokon beraksi.
Opa Laurens Tulus. Dialah satu diantara tetua kampung desa Warembungan yang mengerti dengan jelas cerita mitos ini. Di usianya yang menginjak 74 tahun, Opa Laurens masih mampu mengingat dengan jelas cerita orang tuanya di masa lalu mengenai keterikatan kuat hubungan antara desa Warembungan dengan gunung Lokon.
"Waktu saya masih kecil orang tua selalu mengingatkan dengan tegas agar tidak melakukan hal-hal yang jahat dan tidak terpuji," ungkap Opa Laurens membuka perbincangan.
Alasannya menurut Opa Laurens, jika di desa Warembungan ada pemuda atau pemudi desa yang salah pergaulan atau sengaja melakukan hal-hal yang tidak bermoral maka gunung Lokon pasti meletus. "Menurut orang tua saya, setiap Lokon meletus pasti ada dosa atau kesalahan yang dilakukan warga, maka kami selalu diingatkan agar selalu menjaga sikap terutama menjelang dewasa," ungkapnya.
Dan memang terbukti, di waktu lalu, jika khususnya di kampung Warembungan ada warga desa yang kedapatan melakukan kesalahan atau kejahatan maka gunung Lokon pasti menyemburkan debu atau lava pijar. "Dan itu memang benar terjadi. Setiap ada warga yang buat kesalahan pasti Lokon bereaksi," tutur Opa Laurens.
Hanya saja menurut Opa Laurens, meskipun gunung Lokon meletus dengan kekuatan besar sambil menyemburkan material debu vulkanik tetapi desa Warembungan selalu terlindungi dari debu maupun terjangan material vulkanik lainnya. "Itu kata orang tua karena Warembungan dilindungi oleh Tatawiran yang menurut cerita merupakan mertua dari Lokon," ujar Opa Laurens.
Gunung Tatawiran yang saat ini lebih dikenal dengan kawah aktifnya Tampoluan, dipercayai tua-tua Warembungan dulu sebagai pelindung warga desa Warembungan dari semburan debu vulkanik gunung Lokon. "Itulah mengapa sejak dari dulu desa ini tidak pernah kena debu vulkanik, kalaupun ada pasti sangat sedikit," ungkap Opa Laurens.
Selain itu, menurut cerita juga dari tetua kampung Warembungan di masa silam terdapat ikatan psikologis yang sangat kuat antara desa Warembungan dengan Opo Lokon yang dipercayai sebagai penjaga utama gunung Lokon. "Tua-tua dulu punya hubungan erat sekali dengan Opo Lokon karena orang warembungan juga adalah orang Tombulu asli yang terkenal sangat dekat dengan Opo Lokon. Makanya tua-tua dulu sering membawa sesajen untuk Opo Lokon," tutur Opa Laurens.
Karena ikatan yang terjalin sangat erat inilah, maka saat gunung Lokon beraksi, Warembungan selalu terlindung dari dampak buruk berkat perlindungan dari Tatawiran yang dipercaya sebagai mertua Lokon serta Opo Lokon yang dipercaya juga sebagai penjaga Lokon juga penjaga warga desa Warembungan.
Jika suatu ketika ternyata ditemukan ada salah seorang warga entahkan dia warga Warembungan atau warga desa di wilayah lain yang masih merupakan keturunan orang Tombulu melakukan kesalahan fatal atau suatu kejahatan sehingga Lokon meletus, maka tua-tua kampung desa Warembungan akan berkumpul di suatu tempat yang saat ini dinamakan kampung baru untuk menyerahkan sesajen sebagai tanda perminataan maaf dan ampun atas kesalahan warga yang mengakibatkan Lokon mengamuk.
"Tua-tua akan membawa sesajen sebagai tanda minta ampun juga sapu lidi yang akan digunakan untuk mengusir bala keluar dari kampung," ungkap Opa Laurens.
Hal ini menurut Laurens harus dilakukan tua-tua kampung, karena saat Lokon mengamuk akibat kesalahan fatal yang dilakukan warga desa membuat roh-roh jahat berkumpul dan memenuhi kampung. "Itulah mengapa, saat Lokon menyembur waktu lalu dalam seminggu bisa terjadi lebih dari tiga kali kematian warga desa, hal ini dipercayai karena ulah roh jahat, makanya harus diusir," ucap Opa Laurens.
Ritual ini menurut Opa Laurens masih dilakukan sampai tahun 1950 an. "Sejak saat itu sampai sekarang sudah tidak dilakukan lagi," ungkapnya.
Meskipun saat ini kepercayaan mengenai mitos ini makin pudar di kalangan warga desa Warembungan, tetapi cerita mitos tetap masih hangat dibicarakan dan diceritakan di antara warga saat Lokon meletus." Meskipun saat ini pemikiran warga makin terbuka mengenai letusan gunung Lokon, tetapi cerita mitos ini tetap terdengar dan dibicarakan warga saat Lokon meletus, meskipun hanya sampai di cerita saja," tutur Opa Laurens yang tetap meyakini mitos dan cerita orang tua di masa lalu ini tidak akan pernah dipisahkan dari perjalanan hidup warga desa Warembungan.
sumber:Tribun Manado
Posted by Ernesto Silangen at 21:20 0 comments
Labels: bencana
Aktifitas Gempa Vulkanik Lokon Menunjukkan Peningkatan
Friday, 15 July 2011Sejak pukul 00.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita tercatat terjadi 193 kali gempa terdiri dari 77 kali gempa vulkanik A dan 116 vulkanik B. "Letusan masih berpeluang terjadi karena aktifitas kegempaan masih terlihat signifikan di sesmograf," ujar Farid Bina, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon kepada Tribun Manado.
sumber; Tribun Manado
Posted by Ernesto Silangen at 23:57 0 comments
Labels: bencana
Serpihan Pesawat Airbus A380 Berjatuhan di Batam
Thursday, 4 November 2010Posted by Ernesto Silangen at 16:52 0 comments
Labels: bencana
Pengungsi Merapi Capai 69.000 Orang
Wednesday, 3 November 2010Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menjamin bahwa pemerintah bisa melayani pengungsi Merapi. Untuk diketahui, selain Merapi, saat ini pemerintah juga menanggung pengungsi korban gempa dan tsunami Mentawai, Sumatera Barat dan banjir bandang di Wasior, Papua Barat.“Pemerintah terus berupaya untuk penanganan para korban bencana mulai dari tahap tanggap darurat hingga masa pembangunan kembali,”katanya.
Kondisi pengungsi Merapi mendapat perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Kemarin Presiden mengunjungi pengungsi di tempat pengungsian Tanjung, Muntilan,Kabupaten Magelang. Kepada para pengungsi, Presiden meminta mereka bersabar karena tempat penampungan sementara tidak seperti keadaan di rumah. Tapi, dia menjanjikan pemerintah akan memberikan layanan berupa makanan, obat-obatan, dan bantuan lainnya agar diterima dengan baik.
“Pemerintah pusat juga membantu pemerintah daerah menjalankan tugas-tugasnya,” katanya. Turut serta dalam kunjungan tersebut Ibu Negara Ani Yudhoyono dan rombongan antara lain Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh,Menpora Andi Mallarangeng, Kepala BNPB Syamsul Maarif, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, dan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo.
Sebelumnya saat memberi arahan kepada jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Bandara Ahmad Yani,Semarang, Presiden meminta pemerintah daerah untuk tidak lengah dengan penanganan tanggap darurat sampai aktivitas Gunung Merapi benar-benar tidak lagi membahayakan warga.“Jangan lengah, jangan lalai, harus sampai tuntas, sampai selesai aktivitas Merapi, sampai saudara-saudara kita kembali ke tempat masing-masing,” ujarnya.
Setelah tahap tanggap darurat selesai, lanjut Presiden, pemerintah provinsi pun harus melakukan tahap rehabilitasi seperti memperbaiki bangunan rusak dan membersihkan tempat yang tertutup abu vulkanik. “Biasanya ada berkah kesuburan tanah yang bisa dimanfaatkan oleh penduduk,”ujarnya. Dalam arahannya,Presiden juga mengimbau para kepala daerah untuk tetap berada di daerahnya masing-masing dan secara langsung turun ke lapangan guna memantau penanganan bencana.
“Jangan ketika saya datang ada di situ, tapi begitu saya kembali,gubernurnya kembali, bupatinya kembali, diserahkan hanya kepada camat. Bukan itu kepemimpinan yang baik,”ujar Presiden. Hingga kemarin, penanganan terhadap pengungsi Merapi berjalan dengan baik, termasuk suplai kebutuhan makanan. Seperti di wilayah Jawa Tengah, ketersediaan logistik dipastikan aman untuk lima hingga tujuh hari ke depan.
Bahkan, persediaan beras sebanyak 460 ton sewaktu-waktu bisa ditambah dari Perum Bulog. Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Yogyakarta juga menyediakan cadangan 100 ton beras. Sebelumnya Bulog Yogyakarta sudah menyalurkan 100 ton beras untuk Pemkab Sleman selama masa tanggap bencana.Kepala Perum Bulog Divre Yogyakarta Murino Mudjono mengatakan, total beras yang disalurkan Bulog untuk tanggap bencana sebanyak 700 ton beras, masing-masing kabupaten/kota mendapatkan 100 ton beras.
Kepala BPBD Jawa Tengah Priyantono Djarot Nugroho menuturkan, selain beras, kebutuhan logistik lainnya yang telah disalurkan kepada para pengungsi juga sudah banyak,seperti family kit(keperluan keluarga) dan keperluan mandi. Sejumlah lembaga juga telah mengucurkan bantuannya,seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Sosial, Kementerian BUMN, Kementerian Kesehatan, dan sejumlah lembaga pemerintah maupun swasta.
“Untuk bantuan kesehatan,kita telah mendirikan 72 pos kesehatan yang berada di lokasi pengungsian di tiga daerah itu.Di Kabupaten Magelang sebanyak 55 pos kesehatan, Boyolali ada 12 pos kesehatan, dan lima pos kesehatan lagi di Klaten. Masing-masing pos terdiri atas empat dokter,perawat, bidan,dan mobil ambulans,’’ papar Priyantono. Bantuan non-logistik juga sudah banyak berdatangan, seperti layanan psikososial anak yang dilakukan Kementerian Sosial, layanan luka traumatik (trauma healing) yang digelar Universitas Diponegoro Semarang,hingga hiburan badut.
Namun, bukan berarti pengungsi tidak ada masalah. Sejumlah penyakit mulai mengancam mereka, di antaranya hipertensi. Hal ini seperti dialami 86 pengungsi letusan Gunung Merapi di barak pengungsian Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. “Setelah lebih dari satu minggu warga berada di barak pengungsian, mereka mulai mengeluhkan sejumlah serangan penyakit dan pada umumnya yang berusia di atas 40 tahun mulai terserang hipertensi,” kata kemarin.
Selain hipertensi, pengungsi mengalami pegal-pegal (87 orang), infeksi saluran pernapasan akut (81 orang),sakit kepala (61 orang), (mual 39 orang),dan gatal-gatal (39 orang). “Serangan hipertensi ini memang banyak menyerang kalangan pengungsi. Mungkin dipicu karena mereka merasa jenuh,stres saat proses evakuasi, dan masalah pikiran terkait harta benda, ternak serta rumah yang ditinggal mengungsi, ”katanya.
Pasangan suami istri yang mengungsi juga mengeluhkan tidak adanya bilik khusus untuk mereka. Menurut Surono, 45, warga Desa Sidorejo,Kecamatan Kemalang, mengaku harus pisah dengan istrinya di lokasi pengungsian. Sejak seminggu lalu, dirinya harus menahan hasrat untuk menggauli sang istri. “Bagi kami yang sudah menikah, ruangan khusus itu penting. Sebab, kami mempunyai kebutuhan lain,”ujar Surono.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta warga bersabar tinggal di pengungsian. Dia menegaskan, situasi tanggap darurat bencana erupsi Gunung merapi masih akan terus diberlakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan.Menurut Sultan, kondisi Gunung Merapi hingga saat ini masih sangat berbahaya sehingga masyarakat diwajibkan untuk tinggal di pengungsian.
“Pokoknya kalau Pak Surono (Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) belum menyatakan aman, ya masih tetap tanggap darurat,”ujarnya di Kepatihan kemarin. Selama situasi ini, lanjutnya, pemerintah bisa menggunakan dana dalam APBD untuk penanganan pengungsian. Bukan hanya dana tak terduga yang biasanya digunakan untuk penanganan bencana, namun dana dalam pos lain untuk sementara juga bisa dialihkan pada pos tanggap darurat. Sebelumnya direncanakan situasi tanggap darurat akan dilaksanakan selama 14 hari terhitung sejak erupsi pertama Gunung Merapi,26 Oktober lalu.
Lava Pijar
Sementara itu, lava pijar sebagai awal terbentuknya kubah baru di puncak Gunung Merapi mulai terlihat. Mulai sekitar pukul 18.50 WIB tadi malam lava pijar muncul dengan disertai beberapa guguran ke arah Kali Gendol.Munculnya lava pijar tersebut terlihat sangat jelas dalam CCTV di Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.
Kepala BPPTK Yogyakarta Subandriyo mengatakan,munculnya lava pijar ini sebagai awal terbentuknya kubah baru Merapi. “Jika konstan dan hanya disertai guguran-guguran, maka lava pijar itu kemudian akan menjadi kubah baru,”ungkapnya tadi malam. Menurut dia,munculnya lava pijar juga membuat awan panas yang keluar tidak sebesar sebelumnya. Pasalnya, kandungan gas yang berada di perut Merapi energinya tidak besar sehingga berpotensi tidak terjadi letusan eksplosif.“
Namun, kubah baru yang terbentuk itu juga berpotensi menyumbat keluarnya gas atau awan panas karena terbentuknya di bagian barat puncak,”ungkapnya. Aktivitas Merapi seharian ke- marin didominasi guguran dan gempa multifase. Sejak pagi sampai siang juga terjadi delapan kali awan panas dengan jarak luncur 3,5 kilometer ke arah Kali Gendol.
Guguran awan panas ini relatif lebih kecil dibanding sebelumnya. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM R Sukhyar mengungkapkan, pada pagi hari awan panas kembali meluncur namun tidak disertai dentuman. Ini menandakan energi yang dilepaskan lebih kecil dibanding energi pada letusan sebelumnya. “Awan panas tersebut murni berasal dari magma yang runtuh,”katanya di Yogyakarta. Menurut dia, jika hal tersebut terus berlangsung maka kondisi Merapi semakin baik.
Karena dengan begitu,Gunung Merapi melepaskan energinya dalam skala kecil sehingga tidak menimbulkan erupsi eksplosif.Menurut dia, guguran awan panas sebagian besar menuju Kali Gendol dengan jarak luncur sekitar 3,5 kilometer dengan ketinggian asap sekitar 700 meter. Sukhyar menambahkan, meski guguran awan panas relatif kecil dibanding sebelumnya, bukan berarti kondisi Merapi sudah aman. Dia menegaskan, status Merapi masih pada level awas (IV) sehingga radius 10 km dari puncak Merapi harus tetap steril dari aktivitas warga.
sumber:SI
Posted by Ernesto Silangen at 11:32 0 comments
Labels: bencana
96 korban Tsunami Mentawai belum ditemukan
Monday, 1 November 2010"Data yang dihimpun, sebanyak 96 orang korban tsunami yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, belum ditemukan Tim SAR," kata Kepala Bidang Penanggulangan Bencana BPBD Sumbar, Ade Edwar, di Padang, Senin.
Gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter disusul gelombang tsunami yang terjadi di Kabupaten Kepuluan Mentawai pada Senin (25/10), menyebabkan sekitar 449 orang meninggal dunia.
Korban yang mengalami luka-luka ketika terjadi gempa dan Tsunami yakni 270 orang mengalami luka berat, 142 orang kondisi luka ringan. Warga yang berada pada tempat pengungsian sebanyak 14.983 jiwa
Rumah warga yang rusak akibat gempa dan tsunami sebanyak 517 unit kondisi rusak berat, 204 unit rumah rusak ringan, rumah dinas 4 unit, 2 unit rusak berat Resort, 1 unit kapal pesiar terbakar, 1 unit kapal pesiar rusak ringan.
Sementara fasilitas umum yang rusak, ketika terjadi gempa dan tsunami yakni jembatan 7 unit, jalan P2D rusak sepanjang 8 km.
Ade Edwar mengatakan, saat ini ada tiga orang korban tsunami terjadi di Kabupaten Kepuluan Mentawai yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat M Jamil Padang.
"Korban menjalani perawatan yakni, Nelli (19) warga Malakopak, Pardamaian (26) warga Dusun Eruk Parabout, Desa Malakopak, Melda Yanti (12) warga Muntee, Kabupaten Mentawai," katanya.
Satu orang bayi lahir pascagempa dan tsunami di Kabupaten Mentawai, yang belum diberi nama oleh kedua orang tuanya meninggal dunia di Rumah Sakit Umum M Jamil Padang.
Dia menambahkan, pasien bernama Nelli (19) setelah melahirkan di Desa Malakokap, Kabupaten Kepuluan Mentawai, harus menjalani perawatan di Rumah Sakit M Jamil, Padang. Sementara dua orang lagi, yakni Melda Yanti (12) mengalami luka pada bagian pinggang sebelah kiri.
"Sedangkan pasien bernama Pardamaian (26), warga dusun Eruk Parabout, desa Malakopak mengalami trauma tumpul (perlukaan pada abdomen tanpa penetrasi ke dalam rongga peritoneum,red) diakibatkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselarasi (perlambatan),"kata Ade Edwar.
Saat ini Pardamian berada di ruang RR rumah saki M.jamil Padang. Pihak Rumah Sakit M.Jamil Padang, belum melakukan operasi pada Perdamian, melihat dulu kondisi pasien.
Tim SAR serta dibantu para relawan masih terus melakukan pencarian terhadap korban meninggal dunia maupun warga hilang, serta menyalurkan bantuan yang telah diterima dari sejumlah pihak baik pemerintah, swasta, maupun LSM.
Posted by Ernesto Silangen at 12:21 0 comments
Labels: bencana
Demi Mentawai, Dua Jam Terapung di Laut
Sunday, 31 October 2010Posted by Ernesto Silangen at 13:15 0 comments
Labels: bencana
Korban Tewas Mentawai Sudah 413 Jiwa
Posted by Ernesto Silangen at 13:08 0 comments
Labels: bencana
Tsunami Hingga Setinggi Pohon Kelapa di Pagai Utara,Mentawai
Saturday, 30 October 2010Brenti, 40 tahun, dan seorang tetangga lelakinya dengan susah payah berjalan melewati hutan sejauh 30 km lebih 2 jam dari dusunnya menuju Sikakap, ibukota Kecamatan Sikakap di Pulau Pagai Utara pada Selasa (26/10/2010) siang.
Ia meninggalkan dusunnya, Muntei Baru-Baru, Desa Batumonga, juga di Pulau Pagai Utara karena hancur diterjang tsunami pada Senin (25/10/2010) malam. Puluhan mayat masih bergelatakan di antara puing-puing kampung yang rusak. Belum ada yang mengurus. Lebih seratus warga hilang dibawa ombak.
"Hanya sekitar 40 orang yang selamat, seluruh rumah 73 unit dan sebuah SD, semalam kami yang hidup termasuk yang luka dan bayi tidur di tengah hujan di perbukitan di belakang kampung," ujarnya Brenti seperti dikutip Supri, jurnalis Tabloid Puailiggoubat yang bertugas di Sikakap.
Brenti kehilangan istri dan dua anaknya. Mereka terseret ombak tsunami dan belum ditemukan. Tsunaminya datang dua gelombang. Gelombang pertama setidaknya setinggi 5 meter mengenai separuh kampung. Gelombang kedua jauh lebih tinggi, melewati pucuk kelapa yang tinggi. Mungkin lebih 8 meter.
Gelombang kedua menghancurkan seisi bangunan kampung hingga ombak menghantam ke darat sejauh 800 meter dari pantai. Kedua gelombang sempat bertemu di tengah kampong, seperti tepukan tangan. Karena masing-masing menghantam dari kiri dan kanan.
Warga yang selamat, katanya, karena lari saat gelombang pertama. Ada juga yang sudah lari setelah gempa. Sedangkan warga yang tewas dan hilang karena dihantam kedua gelombang. Ada yang terseret ombak, ada yang tertimpa pohon dan runtuhan rumah.
Gempa 7,2 SR tidak begitu keras dirasa warga. Namun goyangannya lama, mereka memperkirakan 9 menit. Warga Muntei Baru-Baru sempat kembali masuk rumah karena sedang hujan. Sebagian besar merasa gempa tidak akan menimbulkan tsunami.
Tapi mereka terkejut setelah mendengar dentuman seperti pecahan ombak yang sangat keras sekitar 15 menit setelah gempa. Tiba-tiba tsunami menyapu desa mereka.
Dusun Muntei Baru-Baru hanya tinggal nama. Tak ada lagi bangunan. Rabu (27/10/2010) sore baru 80 korban tewas ditemukan dan 102 masih hilang. Hanya 40 orang yang selamat.
Tim evakuasi sudah menguburkan jenazah para korban Rabu sore. Juga membawa sejumlah bantuan.
sumber:PK
Posted by Ernesto Silangen at 22:09 0 comments
Labels: bencana













.jpg)