DUA TERSANGKA TERORIS TEWAS DI TANGAN DENSUS 88 ANTITEROR SETELAH KURIR BUKA MULUT

Saturday, 10 October 2009
PENASARAN: Ratusan warga berkumpul di rumah kos milik Haji Jatna di Gang Semanggi 2 RT 2/RW 3, Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang. Mereka tak menduga di situ ada dua teroris yang sedang diburu polisi

Detasemen Khusus 88 Mabes Polri memenuhi janjinya untuk meringkus buron terhebat kedua setelah Noordin M Top. Dalam operasi terbatas selama enam jam kemarin, Syaifuddin Zuhri dan Muh Syahrir dilumpuhkan. Sayang, mereka tewas diberondong peluru tim CRT (Crisis Response Team) Densus 88 Mabes Polri.

“Kami menduga mereka adalah Syaifuddin Zuhri dan Muhammad Syahrir. Itu berdasar keterangan saksi dan keterangan lain yang didapatkan di lapangan," ujar Kadivhumas Irjen Pol Nanan Soekarna di Mabes Polri tadi malam. Nanan belum berani memastikan karena masih menunggu identifikasi DNA dan data forensik lainnya. "Senin nanti baru bisa jelas," tambahnya.

Nanan mengakui polisi sudah menghubungi keluarga Syaifuddin di Cilimus, Kuningan, Jawa Barat.

Penggerebekan dilakukan di sebuah rumah kos milik Haji Jatna di Gang Semanggi 2 RT 2/RW 3, Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang, Banten. Hingga tadi malam, lokasi itu masih dipadati warga yang menonton.

Penangkapan Syaifuddin dan Syahrir ini sebenarnya berawal dari data laptop Noordin M Top. Selain itu, polisi juga mendapatkan pengakuan penting dari Aris Makruf, ajudan Noordin yang masuk daftar pencarian orang (DPO) yang menyerah di Temanggung, Jawa Tengah.

Sumber harian ini Sabtu (3/10) lalu, mengungkapkan sebuah operasi besar akan segera dilakukan. "Insya Allah kita akan dapatkan sesuatu yang besar dalam beberapa saat lagi," kata perwira itu (Kaltim Post 4/10). Janji itu dipenuhi lima hari kemudian.

Menurut Nanan, polisi terpaksa melakukan penembakan. "Karena mereka melempar bom dari sakunya," kata mantan Kapolda Jawa Barat itu.

Dia menjelaskan, penggerebekan dimulai dari penangkapan seorang berinisial Fr di Bekasi Timur. "Pagi diringkus, siang langsung ke Ciputat," tambahnya.

Fr atau Fajar ini diduga polisi sebagai kurir yang bertugas menyediakan safe house bagi Syaifuddin dan Syahrir. "Dia mengaku sebagai Sony, yang mencari kontrakan," katanya.

Fajar alias Sony sudah tinggal di kos itu sejak bulan Ramadhan. Namun, Syaifuddin dan Syahrir baru masuk sejak tiga hari yang lalu (Selasa).

Dari informasi itu pukul 11.15 WIB tim CRT atau tim penindak Densus 88 Mabes bergerak masuk. "Anggota terpaksa menembak karena mereka menyerang petugas. Di sana ada tujuh bom," ungkap Nanan.
Seorang sumber yang ikut dalam penggerebekan menuturkan, Syahrir yang melempar bom pipa pertama kali sesaat begitu pintu didobrak. "Dapat ditangkis," tutur sumber itu. Setelah pintu terbuka, Syaifuddin berusaha lari dengan melemparkan bomnya untuk menjebol genting kamar. Namun bom itu tidak meledak. Syaifuddin melempar lagi, kali ini ke arah Densus 88 dan meledak hanya satu meter di samping seorang anggota.

"Karena melawan harus kami lumpuhkan," katanya. Kamar berukuran 3 x 4 meter itu jebol pintu dan sebagian dindingnya. "Bom pipa yang dibawa ukuran kecil, tapi kalau kena langsung bisa mematikan. Seperti mercon Leo (jenis mercon) tapi lebih besar lagi sedikit," ucapnya.
Saksi mata Usep Muzani, penghuni kamar nomor 14 samping kamar Syaifuddin sempat terkunci di dalam kamar saat penggerebekan berlangsung. "Saya mendengar suara bawa hidup bawa hidup," ujarnya.

Tapi beberapa saat kemudian terdengar suara ledakan. "Seperti petasan," tambahnya. Lalu setelah itu terdengar baku tembak. "Saya sempat ditodong Densus, lalu disuruh keluar,” cerita mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu.

DEKAT UNIVERSITAS

Lokasi persembunyian Syaifuddin memang unik. Lokasinya dekat sekali dengan kampus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Jaraknya hanya sekitar 600 meter dari jalan Ciputat Raya. Rumah Rektor UIN Prof Komaruddin Hidayat juga tak jauh dari lokasi itu, hanya sekitar 500 meter dan beda rukun tetangga (RT).

Di lokasi itu ada Pusdiklat Departemen Agama, Kampus Bina Sarana Informatika, dan Ciputat Mega Mall yang merupakan kompleks pertokoan yang ramai. Jarak antar rumah juga sangat rapat.

Persembunyian Syaifuddin itu hanya satu kilometer dari Polsek Ciputat. "Masak teroris lapor Polsek dulu," kata Kabidpnenum Mabes Polri Kombes Untung Yoga saat ditanya soal kelengahan aparat Polsek.

Sumber harian ini menuturkan, lokasi itu terendus karena jaringan Syaifuddin berkhianat. "Tekanan media membuat mereka frustasi," ungkapnya. Fajar adalah kurir lapis terakhir bagi keduanya. Nama Fajar muncul sejak pengintaian intensif setelah pemakaman Urwah di Mijen Kudus (
Noordin Sudah Punya Pengganti, Kaltim Post, 7 Oktober 2009).

Kadivhumas Nanan Soekarna menjelaskan, Fajar sebenarnya nama baru. "Dia masih kerabatnya," tambah Nanan.

Setelah operasi ini, Nanan memastikan Densus 88 masih bekerja. "Ada puluhan yang belum (tertangkap)," katanya.

Penangkapan berujung tewasnya duo teroris asal Kuningan, Jawa Barat itu disesalkan pengamat terorisme Rakyan Adibrata. "Amat disayangkan kalau benar-benar Syaifuddin. Karena dia punya jaringan langsung ke Al Qaidah," tuturnya.

Peneliti Research Center for Terrorism and Security yang pernah meriset terrorisme di Perancis itu menilai, metode pengepungan Densus 88 tidak harus berakhir mati. "Sebenarnya bisa dilumpuhkan dengan non lethal weapon," ujarnya.

Wakil Ketua KoM Ridha Saleh Komnas HAM mengatakan, jika mengacu pada prinsip hak asasi manusia tidak boleh ada seorang dibunuh di luar putusan pengadilan.

"Dalam konteks terorisme, memang polisi punya diskresi apabila mereka telah melakukan upaya-upaya tapi tidak diindahkan. Mereka dimungkinkan melakukan tindakan sesuatu untuk mencegah. Tapi, prinsip umum tidak boleh membunuh orang," paparnya

sumber : si
»»  READMORE...

SYAIFUDIN ZUHRI DAN M SYAHRIR TEWAS DI TANGAN DENSUS 88 ANTI TEROR INDONESIA

Team Densus 88 antiteror dengan hasil buruannya kantong jenasah berisi jasad para teroris

Dua buron teroris yang diduga Syaifudin Zuhri dan M Syahrir dinyatakan tewas dalam penggerebekan oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri di sebuah rumah di Ciputat kemarin.

Polisi belum memastikan mereka adalah Syaifudin Zuhri dan M Syahrir karena masih menunggu identifikasi forensik. ”Dugaan kita adalah dua DPO (daftar pencarian orang), yaitu Syaifudin Zuhri dan M Syahrir,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna di Jakarta kemarin. Saat ini jenazah kedua anggota teroris itu diperiksa secara forensik di RS Polri Kramatjati,Jakarta. Menurut Direktur Rumah Sakit Polri Kramat Jati Brigjen Aidy Rawas,untuk mempercepat proses identifikasi, tadi malam juga dilakukan tes DNA dari pihak keluarga sebagai sampel.

Hasil identifikasi akan diumumkan Senin (12/10) depan. Syaifudin Zuhri dan M Syahrir dituduh sebagai anggota teroris yang terlibat dalam jaringan yang meledakkan Hotel JW Marriott dan Hotel The Ritz Carlton pada 17 Juli 2009.Data kepolisian,M Syahrir memiliki ciri khusus dengan tinggi 165 cm,bentuk kepala bulat, memiliki warna mata hitam, dan bentuk bibir tipis. Polisi mendeteksi Syahrir sebagai warga Kampung Melayu, Teluk Naga, Tangerang dan Sukmajaya,Depok,Jawa Barat.

Adapun ciri khusus Syaifudin Zuhri adalah memiliki tinggi badan 165 cm dengan bentuk alis bulat, mata hitam, bentuk bibir tebal,dan ada kantong mata warna hitam. Syahrir menurut pihak kepolisian tercatat sebagai warga Perum Telaga Kahuripan,Parung, Bogor,Jawa Barat. Penggerebekan atas kedua anggota teroris itu dilakukan di sebuah rumah indekos di Jalan Semanggi II Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat sekitar pukul 11.15 WIB. Menurut Nanan, Tim Densus 88 terpaksa menembak mati keduanya karena tidak mau menyerahkan diri saat diberi peringatan.

Kedua buron malah tiga kali melemparkan bom kecil untuk melancarkan perlawanan. Setelah jenazah keduanya dievakuasi, di dalam kontrakan tersebut juga ditemukan tujuh bom kecil yang masih aktif. Nanan lalu menjelaskan kronologi hingga Tim Densus 88 bisa menemukan persembunyian keduanya. Awalnya, pada pagi hari kemarin Tim Densus sudah menangkap satu orang anggota jaringan teroris berinisial FR di Bekasi. Dari informasi FR itulah kemudian Tim Densus mendeteksi keberadaan Syaifudin dan Syahrir.

Bahkan, menurut Nanan, FR itulah yang menyewa kamar kontrakan di Ciputat. FR diketahui sebagai Fajar Firdaus, 25, warga Perumahan Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi. Penangkapan Fajar oleh Tim Densus dalam kaitan aksi terorisme membuat warga sekitar kaget. Mereka mengenal Fajar sebagai pemuda yang supel,sopan, dan sering membantu tetangga. Dari pengamatan harian Seputar Indonesia (SI) kemarin petang, puluhan warga tampak berkerumun di depan rumah yang dihuni Fajar di Perumahan Margahayu Jalan Mahoni 3 RT 06/16 Blok C 378, Bekasi Timur,Kota Bekasi.

Dia tinggal bersama kedua orangtuanya, Herman Oeteng, 54, dan Eni Masnuni Rahman, 47. Ketua RT setempat Makmuri mengaku sempat melihat Fajar sebelum ditangkap. Saat itu Fajar hendak pergi menggunakan sepeda motor warna merah. Makmuri kaget ketika menyaksikan televisi ada berita tentang penangkapan Fajar. Menurut Makmuri, Fajar merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Herman Oteng dan Eni Masnuni. Herman merupakan asisten bedah di RSCM Jakarta dan Eni merupakan seorang guru SMP di Jakarta.

Dua tahun lalu Fajar telah menikah dengan seorang gadis yang tinggal di Ciputat. Sejak menikah dan mempunyai 2 anak Fajar lebih sering menetap di Ciputat. Berdasarkan informasi yang dihimpun SI, Ibu Fajar, yakni Eni, merupakan adik Nur, istri M Syahrir, salah satu buron teroris.

Lima Hari Dipantau

Sementara itu,penggerebekan terhadap rumah indekos yang ditempati dua anggota teroris sudah dipantau anggota Densus 88 sejak lima hari lalu.Rumah di Ciputat itu diketahui milik Jatnah. Warga sekitar tidak mengetahui bahwa yang diintai adalah teroris yang sudah lama menjadi buron. ”Sejak lima hari lalu kami sudah tahu banyak polisi.Saya kira hanya penggerebekan apa.

Ternyata teroris,” kata Yahya, 32, warga setempat. Penggerebekan yang berlangsung pukul 11.15 WIB kemarin membuat warga terkejut. Mereka sempat mendengar beberapa kali suara tembakan. Di rumah bercat merah muda dan berpagar putih tersebut warga melihat puluhan anggota Densus 88 berseragam lengkap dan berpakaian preman dengan senjata laras panjang merangsek masuk ke lantai 2. Di lantai itu ada sekitar 4 hingga 5 kamar.Beberapa orang tampak masuk ke salah satu kamar yang diduga dihuni dua anggota teroris itu. Pukul 11.45 WIB, warga kembali mendengar suara tembakan dari dalam kamar.

Terdengar juga bunyi kaca yang pecah dari lantai. ”Setelah itu tidak ada tembakan lagi.Tidak lama kemudian datang dua mobil ambulans,” kata Iwan Wahyudin,29. Rumah indekos itu memiliki 20 kamar yang baru satu tahun disewakan. Sewanya Rp 432.000 per bulan.Mulyono, 40,warga lainnya, tidak mengetahui pasti siapa saja penghuninya. ”Setahu saya yang kos di situ mahasiswa. Tapi, saya tidak tahu kalau di tempat itu ada terorisnya,”ungkapnya. Dua anggota teroris diketahui baru tinggal di tempat itu selama satu bulan.Kakak beradik ini tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga kamarnya.

Selama mengontrak kamar, baru pertama kali mereka bertemu dengan tetangga samping kamar. Mereka, salah satunya menyebut bernama Soni, mengaku sebagai mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN). ”Kalau pergi pagi hari dan kalau pulang malam sekitar pukul 22.00- an,” kata Sepmujani, salah satu penghuni kamar. Hingga kemarin sore, lokasi penggerebekan yang berlokasi di belakang kampus Bina Sarana Informatika (BSI) itu dikerumuni ratusan warga. Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri setelah salat Jumat sempat meninjau rumah indekos tersebut.

Hanya berselang beberapa menit, Kapolri lantas meninggalkan lokasi.Tidak lama kemudian, polisi membawa keluar dua kantong mayat dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Malam harinya, Kapolri menghadiri rapat terbatas bidang politik dan keamanan di kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas, Bogor. Seusai rapat,Presiden melalui Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng meminta kepolisian terus mengungkap kasus terorisme hingga ke akarnya.

Presiden memberikan dorongan kepada kepolisian untuk terus mengejar dan membebaskan negeri ini dari jaringan terorisme. ”Kita ingin bangun bangsa ini, bahkan ke depan jangan sampai ada yang merusaknya dengan melakukan tindakan yang justru mengancam sendi perekonomian dan orang yang tidak bersalah, dengan motivasi yang betul-betul berupa kejahatan,” ujar Andi Mallarangeng mengutip pernyataan Presiden SBY

sumber : si
»»  READMORE...

PBB Usulkan agar Evakuasi Korban Gempa Padang Dihentikan

Friday, 9 October 2009

RUMAH SAKIT DARURAT, Petugas kesehatan dari Amerika Serikat tengah merawat seorang warga yang selamat dari gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter di rumah sakit darurat milik Angkatan Laut AS di Padang, Sumatera Barat kemarin.


PADANG(SI) – Kantor Koordinasi untuk Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA), menyarankan agar pencarian korban tewas akibat gempa di Sumatera Barat (Sumbar) dihentikan. Lembaga yang bertugas mengoordinasikan tim Search and Rescue (SAR) internasional itu meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) lebih fokus pada upaya meneruskan bantuan kemanusiaan bagi korban selamat.

”UN OCHA menyarankan penghentian pencarian dan tanggap darurat kini memasuki tahap rehabilitasi,” ujar Koordinator Lapangan UN OCHA Winston Chang di Padang, Sumbar, kemarin. BNPB, kata dia, sebaiknya menghentikan pencarian korban setelah tujuh hari pascagempa, Rabu lalu (30/9).

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar juga telah mengeluarkan fatwa penghentian pencarian korban gempa diikuti tanah longsor di tiga dusun di Desa Tandikat Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman. Fatwa ini dikeluarkan setelah MUI melihat kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan tim relawan yang mencari korban dan tokoh masyarakat di Padang Pariaman.

Hingga kemarin, Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB) Sumbar secara resmi baru menghentikan upaya pencarian korban tewas di Kabupaten Agam. Adapun di daerah lain upaya pencarian dan evakuasi masih terus dilakukan. Satkorlak PB Sumbar memutuskan untuk menghentikan pencarian korban tewas di Kabupaten Agam lantaran keluarga korban sudah pasrah dan ikhlas.

“Sudah disepakati untuk dinyatakan selesai dan dijadikan kuburan massal,” kata Komandan Korem (Danrem) 032/Wirabraja Sumbar Kolonel Inf Mulyono di Padang kemarin. Di Kabupaten Agam, wilayah tertimbun longsor akibat gempa berkekuatan 7,6 Skala Ritcher (SR),Rabu lalu (30/9), terdapat di Kanagarian (Desa) Malalak Selatan, Kecamatan Malalak.

Di desa ini ada tiga jorong (dusun) yang tertimbun longsoran dan menimbulkan banyak korban jiwa. Berdasarkan data Korem 032 Wirabraja, korban tewas terbanyak di Dusun Damarmancah yang diperkirakan mencapai 33 orang. Dari jumlah itu yang berhasil dievakuasi 10 orang.Di Dusun Talago diperkirakan terdapat 18 korban tewas dan yang sudah ditemukan 14 orang.

Adapun di Dusun Siniair terdapat 11 korban dan yang ditemukan 2 orang. Di Desa Malalak Barat diperkirakan terdapat 16 korban dan yang sudah ditemukan 2 orang. Di tempat terpisah, upaya pencarian korban tertimbun tanah longsor di Dusun Kapala Koto, Lubuk Laweh dan Cumanak, Desa Tandikat, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman, masih terus dilakukan.

Keluarga korban meminta agar tim evakuasi memaksimalkan pencarian hingga tiga hari ke depan. Di Lubuk Laweh, 132 orang dinyatakan tertimbun dan yang ditemukan baru 32 orang. Di Kapala Koto korban meninggal dunia akibat tertimbun tanah longsor sebanyak 69 orang dan yang ditemukan 46 orang. Di Cumanak korban yang meninggal dunia sebanyak 75 orang dan yang sudah ditemukan 25 orang.

Dengan demikian, jumlah korban meninggal dunia di Kabupaten Padang Pariaman, termasuk di dua kecamatan lain,yakni Limo Koto Kampung Dalam dan Limo Koto Timur, sebanyak 355 orang dan yang ditemukan sebanyak 144 orang. Adapun di Agam, jumlah korban meninggal dunia sebanyak 70 orang dan yang sudah ditemukan 30 orang. Mulyono mengakui,banyaknya korban meninggal dunia yang belum ditemukan di Padang Pariaman dan Agam disebabkan kurang efektifnya kerja tim evakuasi.

Pencarian dengan menggunakan alat berat baru dilakukan dua hari setelah gempa. Di Kota Padang, korban terbanyak yang belum ditemukan terdapat di reruntuhan Hotel Ambacang. Menurut Mulyono, korban di Hotel Ambacang diperkirakan 77 orang dan yang sudah ditemukan 41 orang. Sebelumnya, sejumlah informasi menyatakan, korban di hotel ini mencapai ratusan orang.

Perubahan jumlah korban terjadi lantaran sejumlah korban selamat yang sebelumnya dinyatakan hilang atau ikut tertimbun akhirnya melaporkan diri ke pos orang hilang yang didirikan di depan hotel. Hingga kemarin, pencarian korban di hotel ini masih terus berlangsung.Tiga alat berat terus menembus reruntuhan hotel dan mengangkut material ke dalam truk.

Tempat lain yang menjadi fokus pencarian di Kota Padang adalah Lembaga Bahasa Asing LIA, Sentral Pasar Raya,dan Ruko Ayu.Namun di Sentral Pasar Raya yang diperkirakan menimbun 10 orang, hingga kemarin belum tampak alat berat untuk mencari korban. “Kita akan terus cari, tetapi kita tentu lebih fokus pada masa yang akan datang,” kata Mulyono.

Berdasarkan data Satkorlak PB Sumbar, korban tewas akibat gempa yang telah ditemukan hingga kemarin mencapai 748 orang. Korban tewas terbanyak berada di Kota Padang yang mencapai 341 orang dan Kabupaten Padang Pariaman 309 orang. Korban yang masih dinyatakan hilang 242 orang.

Distribusi Bantuan

Sementara itu,hingga kemarin, helikopter TNI Angkatan Darat masih terus menyalurkan bantuan di sejumlah permukiman di Padang Pariaman dan Agam yang sulit dijangkau lewat jalan darat. Menurut Kepala Penerangan Daerah Militer I Bukit Barisan Letnan Kolonel (CAJ) Asren Nasution, penyaluran bantuan dilakukan sambil mengevaluasi pelaksanaan 10 hari tanggap darurat.

Sejak kemarin, Pemerintah Provinsi Sumbar juga mulai menyalurkan uang lauk-pauk untuk korban gempa sebesar Rp5.000 per orang. Bantuan disalurkan melalui 12 pemerintah kabupaten atau kota di Sumbar dan diteruskan ke pemerintah kecamatan hingga dusun. Uang yang disediakan untuk 10 hari dengan catatan maksimal lima orang per keluarga. Pembatasan ini disebabkan keterbatasan jumlah anggaran.

Namun sejumlah warga yang ditemui di Padang Pariaman dan Agam dua hari lalu mengaku, bantuan ini tidak akan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sebab, kebanyakan korban kini sudah tidak bekerja.
 
sumber : si
»»  READMORE...

Antasari Didakwa Menyuruh Membunuh




Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif Antasari Azhar kemarin menjalani sidang pertama sebagai terdakwa dalam kasus pembunuhan terhadap Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen.

Jaksa mendakwa Antasari telah menyuruh orang lain membunuh Nasrudin. Perbuatan itu dilakukan Antasari bersama-sama pengusaha Sigid Haryo Wibisono dan mantan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Wiliardi Wizar. Hal itu terungkap dalam dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) yang dibacakan dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin.

Jaksa menyatakan, ketiganya pada Maret 2009 di rumah Sigid di Jalan Dipati Unus,Jakarta Selatan, telah melakukan perencanaan pembunuhan Nasrudin. “Mereka sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan dengan sengaja dan dengan rencana merampas nyawa orang lain, yakni Nasrudin Zulkarnaen,” kata Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum Cirus Sinaga.

Menurut jaksa, kasus ini berawal dari pertemuan antara Antasari dan Rani Juliani di Kamar 803 Hotel Grand Mahakam Jakarta Selatan pada Mei 2008.Pertemuan itu membicarakan keanggotaan Antasari di Modern Golf Tangerang. Diketahui, Rani merupakan istri Nasrudin yang berprofesi sebagai caddygolf.

Saat akan pulang, lanjut JPU, Antasari memberikan uang USD300 kepada Rani, lalu memeluknya seraya mengajak berhubungan badan. Namun, Rani menolak. Rani pun menceritakan kejadian itu kepada Nasrudin yang kemudian menemui Antasari. Tujuan Nasrudin ialah meminta bantuan Antasari agar dirinya dapat segera dilantik sebagai direktur sebuah BUMN.

Kemudian, kata JPU, Rani bersama Nasrudin menemui Antasari di kamar dan hotel yang sama. Namun hanya Rani yang masuk ke kamar. Nasrudin meminta Rani mengaktifkan ponselnya agar bisa mendengar pembicaraan keduanya. Diketahui, pembicaraan itu seputar keanggotan Antasari di klub golf dan permintaan Nasrudin.

Di sela pembicaraan, ujar jaksa, terdakwa meminta merayu Rani melakukan aktivitas seks. Saat itu, tiba-tiba Nasrudin masuk ke kamar dan memarahi terdakwa seraya mengancam akan memanggil wartawan. Setelah kejadian itu, sekitar Juni 2008 Nasrudin menemui terdakwa di kantornya sebanyak lima kali,salah satu tujuannya meminta bantuan Antasari agar dirinya dilantik sebagai Direktur PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

Pada Desember 2009, Antasari menerima SMS dari Nasrudin yang berbunyi Antasari telah melakukan pelecehan seks terhadap istrinya. Jaksa melanjutkan, istri Antasari, Ida Lasmiwatri, pernah menerima telepon dari seseorang yang bernada teror.“Atas ancaman dan teror tersebut,terdakwa panik dan menduga orang yang meneror adalah korban (Nasrudin),” tutur jaksa.

Tak lama kemudian, terdakwa meminta Sigid membantunya mengatasi teror itu dengan cara menghabisi korban.Antasari, Sigid, Williardi melakukan pertemuan pada awal Januari 2009. Pertemuan itu membahas teror dan pemerasan yang dialami Antasari dan keluarganya. Menurut jaksa, Antasari sempat meminta perlindungan hukum kepada Kapolri atas apa yang dialaminya.

Kapolri membentuk tim yang diketuai Kombes Pol Chairul Anwar untuk melakukan penyelidikan. Namun polisi tidak menemukan bukti Nasrudin melakukan perbuatan pidana. Lantaran merasa tim kepolisian tidak menghentikan teror yang dialaminya,Antasari kembali bertemu Sigid untuk mencari cara menghabisi Nasrudin.

Pertemuan itu ditindaklanjuti Sigid dengan menghubungi Kombes Pol Wiliardi Wizar menceritakan tentang permasalahanAntasari, termasuk soal keinginan menghabisi Nasrudin. Melalui Sigid, sambung jaksa, Antasari bertemu dengan Wiliardi meminta bantuan agar menghabisi korban.“Sigid akan mempersiapkan dana operasional untuk mewujudkan pekerjaan tersebut,” kata jaksa.

Mendengarkan permintaan Antasari,Wiliardi meminta agar Antasari membicarakan kepada Kapolri tentang kenaikan pangkat dan jabatannya. Pertemuan itu mencapai kesepakatan. Antasari menyerahkan foto, rumah, mobil Nasrudin kepada Sigid untuk diberikan kepada Wiliardi. Lalu, Williardi menghubungi Jerry Hermawan Lo untuk mencarikan orang untuk menghabisi Nasrudin.

Untuk memenuhi rencana itu, Jerry menemui Eduardus Ndopo Bete alias Edo dan menyerahkan uang Rp500 juta. Edo lalu menyerahkan dana itu kepada seorang pelaksana lapangan bernama Fransiskus Kia Walen yang selanjutnya mencari beberapa orang. Pada 14 Maret 2009, Nasrudin tewas ditembak sepulang dari bermain golf di kawasan Modern Golf, Tangerang.

Jaksa menjerat Antasari dengan Pasal 55 ayat 1 ke 1 jo 55 ayat 1 kedua jo 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Setelah mendengar dakwaan jaksa,Antasari mengatakan akan mengajukan eksepsi atau keberatan. Kuasa hukum Antasari, M Assegaf, mempertanyakan isi dakwaan tentang adanya pertemuan antara kliennya dan Rani.“Cerita itu kan dari Rani. Sebenarnya, tidak ada pertemuan semacam itu,” katanya.

Dia mengatakan, dakwaan JPU itu lebih banyak berisi cerita “heboh dan merangsang”. Dalam waktu bersamaan, pengadilan negeri kemarin juga menggelar sidang perdana perkara tiga terdakwa lainnya,yakni Sigid, Wiliardi,Jerry.

Di Gedung Kejagung, Jaksa Agung Hendarman Supandji mengaku sudah mengirim surat kepada Presiden perihal pemberitahuan status Antasari sebagai terdakwa. Diketahui, Presiden akan memberhentikan Antasari secara permanen dari jabatannya sebagai Ketua KPK apabila sudah berstatus terdakwa.Hal itu sesuai dengan UU No 30 Tahun 2002 tentang KPK.

sumber : si
»»  READMORE...
 
 
 

About Me

My Photo
Ernesto Silangen
samarinda, kalimantan timur, Indonesia
View my complete profile

Followers

 
Copyright © Mahakam News