PT BBE melalui dana CSR bantu semua peralatan laboratorium bahasa Untag Samarinda serta Dewan Adat Dayak Kaltim

Monday, 18 July 2011
Dari kanan Direktur utama PT BBE Bpk Rosihan Arsyad, Direktur  General Affair.PT BBE Bpk Matheus  Rukmasaleh Arif,Gubernur Kaltim Bpk Awang Faruk Ishak ,Sesepuh  Untag Bpk Awang Faisal dan Komisaris Utama PT BBE Bpk Wismoyo Arismunandar meresmikan Gedung Pusat Kajian Bahasa(PKB) dan laboratorium Bahasa Universitas 17 Agustu 1945(Untag).

Gedung Pusat Kajian Bahasa(PKB) dan laboratorium Bahasa Universitas 17 Agustu 1945(Untag) Samarinda,yang selama ini di tunggu-tunggu mahasiswa dan masyarakat.akhirnya di resmikan jumat 15 juli 2011. Hadir dalam acara peresmian  gedung PKB dan laboratorium bahasa tersebut,mantan Wakil Gubernur  Kaltim Bapak Yurnalis Ngayoh,Anggota DPR RI asal Kaltim H Bambang Susilo,Ketua dewan Adat KAltim Bapak Eddy Gunawan serta jajaran Komisaris dan Direktur PT BBE.
Penyerahan bantuan tidak saja kepada PKB Untag tapi juga kepada Dewan Adat Dayak untuk pembangunan Lamin Adat di Samarinda.
Direktur PKB Untag ibu Nora suzuki Mokodompit mengatakan gedung PKB dan laboratorium bahasa di bangun sejak tahun lalu dengan dana bantuan dari pemprov Kaltim sedangkan alat-alat perlengkapan Lab.bahasa sepenuhnya merupakan bantuan dari Corporate Sosial Responsibility(CSR) PT BBE.

sumber: Ernesto Silangen

»»  READMORE...

LOKON BELUM LETUSAN UTAMA

Sunday, 17 July 2011
 Setelah proses erupsi (Letusan, red) yang disertai muntahan lava pijar Kamis (14/7) malam pukul 23.30 Wita, Jumat (15/7) kemarin Gunung Lokon kembali terjadi dua kali erupsi. Erupsi pertama terjadi pukul 16:52 Wita yang ditandai keluarnya kepulan asap putih dari kawah Tompaluan. Tak berselang lama, pukul 18:34 Wita, erupsi kembali terjadi tapi skalanya tidak terlalu besar.
Menurut Kepala Pos Pemantau Gunung Lokon, Farid Bina, letusan yang terjadi kemarin masuk kategori kecil atau tidak sedahsyat letusan Kamis malam yang mengeluarkan lava pijar dengan tinggi kurang lebih 1500 meter.
Hanya saja, ungkap Farid, pihaknya belum mengetahui apakah letusan itu sudah merupakan letusan utama atau tidak. “Belum bisa dipastikan. Semua tergantung tekanan energi yang berasal dari dalam kawah,” terangnya seraya menambahkan erupsi masih berpeluang terjadi karena aktivitas kegempaan masih terlihat signifikan di sesmograf.
Mengenai letusan dahsyat pada Kamis malam, Farid menyebut itu terjadi karena akumulasi energi dari dalam kawah selama 16,5 jam. “Puncaknya terjadi pada Kamis malam itu,” ungkapnya.
Farid menjelaskan, saat ini Lokon masih mengeluarkan hembusan-hembusan asap dalam bentuk letusan kecil, sebagai bentuk pelepasan energi yang tersimpan di dalamnya.  “Karakteristik Gunung Lokon tidak sama dengan Gunung Merapi, Karangetang dan Soputan. Tiga gunung tadi bisa membentuk kuba lava,” ungkapnya.
Terkait dengan aktivitas Lokon yang kadang meletus di malam hari, Farid menyebut hal itu kebetulan saja. “Letusan tidak memandang jam dan waktu. Semua tergantung energi yang terkumpul di dalamnya,” jelasnya sambil tersenyum.
Warno, anggota pos pemantau Gunung Lokon menegaskan, letusan yang terjadi Kamis malam belumlah sehebat  1991 silam. Saat itu ada seorang pendaki gunung asal Swiss Viviane Clavel yang tewas dan jasadnya sampai sekarang tak ditemukan karena tertimbun debu.
“Belum hebat letusannya. Malah abu vulkanik tidak sampai ke warga karena ditiup angin,” terangnya. Diketahui, wilayah yang terkena semburan debu vulkanik Gunung Lokon adalah Desa Ranotongkor, Lolah, Lemoh, Tateli, dan beberapa desa lain di Kecamatan Tombariri dan Pineleng, Minahasa.
Pantauan koran ini di Kelurahan Kinilow I, masih banyak warga yang melakukan aktivitas biasa seperti pergi berkebun. Hanya saja akses jalan ke Gunung Lokon di Kelurahan Kakaskasen I sudah dijaga anggota Linmas. “Untuk sementara ditutup,” terang Berty Rompis dan Janny Tamaka yang menjaga pos di Kakaskasen 1 Lingkungan IV.
Sementara, pengungsi di sekolah-sekolah bakal “diekspor” ke lokasi pengungsian lain. Pasalnya kehadiran warga di sekolah dinilai akan mengganggu kegiatan belajar mengajar yang dimulai Senin pekan depan. Pemkot Tomohon sendiri mulai menginventarisasi sejumlah lokasi seperti aula kantor lurah, gedung-gedung perguruan tinggi dan gedung besar lainnya.
“Pengungsi akan dipindahkan dalam waktu dekat karena sebagian sekolah akan mulai proses belajar mengajar. Saat ini balai kelurahan menjadi alternatif utama,” terang Plt Sekkot Tomohon Drs Arnold Poli SH MAP saat memimpin rapat koordinasi yang diaksanakan di Pos Komando Tanggap Darurat Letusan Gunung Lokon di Eks Rindam Kakaskasen III, Jumat (15/7), kemarin.
Terkait dengan dampak Lokon jika meletus seperti 1991, Poli menukas pendek. ”Pastinya Pemkot siap mengevakuasi besar-besaran khususnya yang tinggal di daerah Tomohon Utara,” tegasnya.
Kabag Humas Pemkot Tomohon Ruddie Lengkong SSTP menambahkan, selain taman kota yang menampung 883 pengungsi, sebanyak 4544 pengungsi yang tersebar di enam lokasi pengungsian rencananya akan direlokasi,. “Ada sekira 3661 jiwa akan dipindahkan ke tempat pengungsian lainnya,” kuncinya. 


sumber: Manado Post
»»  READMORE...

"Katanya Desa Warembungan Dilindungi Tatawiran dan Opo Lokon"



"Banyak cerita mitos di masa lampau yang sedikit menguak misteri mengapa saat gunung Lokon menyemburkan debu vulkanik, desa Warembungan selalu terlindung dari semburan debu vulkanik. Ternyata menurut mitos desa ini punya keterikatan hubungan cukup kuat dengan Tatawiaran maupun Opo Lokon yang dipercayai sebagai penjaga gunung Lokon."

Didorong rasa penasaran dengan cerita dan mitos yang berkembang di antara masyarakat desa Warembungan, Tribun Manado kemudian mencoba mencari informasi dari tetua kampung desa Warembungan.

Setelah menelusuri kampung yang masih masuk dalam wilayah kecamatan Pineleng ini, sekitar 15 menit akhirnya Tribun Manado bertemu seorang tetua kampung yang tahu banyak soal cerita mitos yang berkembang mengenai misteri mengapa tidak akan pernah terjadi hujan debu vulkanik di Warembungan saat Lokon beraksi.

Opa Laurens Tulus. Dialah satu diantara tetua kampung desa Warembungan yang mengerti dengan jelas cerita mitos ini. Di usianya yang menginjak 74 tahun, Opa Laurens masih mampu mengingat dengan jelas cerita orang tuanya di masa lalu mengenai keterikatan kuat hubungan antara desa Warembungan dengan gunung Lokon.

"Waktu saya masih kecil orang tua  selalu mengingatkan dengan tegas agar tidak melakukan hal-hal yang jahat dan tidak terpuji," ungkap Opa Laurens membuka perbincangan.

Alasannya menurut Opa Laurens, jika di desa Warembungan ada pemuda atau pemudi desa yang salah pergaulan atau sengaja melakukan hal-hal yang tidak bermoral maka gunung Lokon pasti meletus. "Menurut orang tua saya, setiap Lokon meletus pasti ada dosa atau kesalahan yang dilakukan warga, maka kami selalu diingatkan agar selalu menjaga sikap terutama menjelang dewasa," ungkapnya.

Dan memang terbukti, di waktu lalu, jika khususnya di kampung Warembungan ada warga desa yang kedapatan melakukan kesalahan atau kejahatan maka gunung Lokon pasti menyemburkan debu atau lava pijar. "Dan itu memang benar terjadi. Setiap ada warga yang buat kesalahan pasti Lokon bereaksi," tutur Opa Laurens.

Hanya saja menurut Opa Laurens, meskipun gunung Lokon meletus dengan kekuatan besar sambil menyemburkan material debu vulkanik tetapi desa Warembungan selalu terlindungi dari debu maupun terjangan material vulkanik lainnya. "Itu kata orang tua karena Warembungan dilindungi oleh Tatawiran yang menurut cerita merupakan mertua dari Lokon," ujar Opa Laurens.

Gunung Tatawiran yang saat ini lebih dikenal dengan kawah aktifnya Tampoluan, dipercayai tua-tua Warembungan dulu sebagai pelindung warga desa Warembungan dari semburan debu vulkanik gunung Lokon. "Itulah mengapa sejak dari dulu desa ini tidak pernah kena debu vulkanik, kalaupun ada pasti sangat sedikit," ungkap Opa Laurens.

Selain itu, menurut cerita juga dari tetua kampung Warembungan di masa silam terdapat ikatan psikologis yang sangat kuat antara desa Warembungan dengan Opo Lokon yang dipercayai sebagai penjaga utama gunung Lokon. "Tua-tua dulu punya hubungan erat sekali dengan Opo Lokon karena orang warembungan juga adalah orang Tombulu asli yang terkenal sangat dekat dengan Opo Lokon. Makanya tua-tua dulu sering membawa sesajen untuk Opo Lokon," tutur Opa Laurens.

Karena ikatan yang terjalin sangat erat inilah, maka saat gunung Lokon beraksi, Warembungan selalu terlindung dari dampak buruk berkat perlindungan dari Tatawiran yang dipercaya sebagai mertua Lokon serta Opo Lokon yang dipercaya juga sebagai penjaga Lokon juga penjaga warga desa Warembungan.

Jika suatu ketika ternyata ditemukan ada salah seorang warga entahkan dia warga Warembungan atau warga desa di wilayah lain yang masih merupakan keturunan orang Tombulu melakukan kesalahan fatal atau suatu kejahatan sehingga Lokon meletus, maka tua-tua kampung desa Warembungan akan berkumpul di suatu tempat yang saat ini dinamakan kampung baru untuk menyerahkan sesajen sebagai tanda perminataan maaf dan ampun atas kesalahan warga yang mengakibatkan Lokon mengamuk.

"Tua-tua akan membawa sesajen sebagai tanda minta ampun juga sapu lidi yang akan digunakan untuk mengusir bala keluar dari kampung," ungkap Opa Laurens.

Hal ini menurut Laurens harus dilakukan tua-tua kampung, karena saat Lokon mengamuk akibat kesalahan fatal yang dilakukan warga desa membuat roh-roh jahat berkumpul dan memenuhi kampung. "Itulah mengapa, saat Lokon menyembur waktu lalu dalam seminggu bisa terjadi lebih dari tiga kali kematian warga desa, hal ini dipercayai karena ulah roh jahat, makanya harus diusir," ucap Opa Laurens.

Ritual ini menurut Opa Laurens masih dilakukan sampai tahun 1950 an. "Sejak saat itu sampai sekarang sudah tidak dilakukan lagi," ungkapnya.

Meskipun saat ini kepercayaan mengenai mitos ini makin pudar di kalangan warga desa Warembungan, tetapi cerita mitos tetap masih hangat dibicarakan dan diceritakan di antara warga saat Lokon meletus." Meskipun saat ini pemikiran warga makin terbuka mengenai letusan gunung Lokon, tetapi cerita mitos ini tetap terdengar dan dibicarakan warga saat Lokon meletus, meskipun hanya sampai di cerita saja," tutur Opa Laurens yang  tetap meyakini mitos dan cerita orang tua di masa lalu ini tidak akan pernah dipisahkan dari perjalanan hidup warga desa Warembungan.


sumber:Tribun Manado
»»  READMORE...

Aktifitas Gempa Vulkanik Lokon Menunjukkan Peningkatan

Friday, 15 July 2011
(Gunung lokon meletus)
Pasca letusan dengan muntahan lava pijar Kamis (14/7) sekitar pukul 23.31 Wita, Gunung Lokon kembali menunjukkan trend peningkatan aktifitas kegempaan hingga Jumat (15/7) pukul 11.30 Wita. Sejak pukul 00.45 Wita hingga kini tak terjadi letusan abu vulkanik maupun lava pijsar.

Sejak pukul 00.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita tercatat terjadi 193 kali gempa terdiri dari 77 kali gempa vulkanik A dan 116 vulkanik B. "Letusan masih berpeluang terjadi karena aktifitas kegempaan masih terlihat signifikan di sesmograf," ujar Farid Bina, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon kepada Tribun Manado.



sumber; Tribun Manado
»»  READMORE...
 
 
 

About Me

My Photo
Ernesto Silangen
samarinda, kalimantan timur, Indonesia
View my complete profile

Followers

 
Copyright © Mahakam News