DISTRIBUSI BANTUAN GEMPA TERKENDALA MEDAN YANG BERAT

Wednesday, 7 October 2009
Anggota TNI dengan menggunakan helikopter mendistribusikan bantuan kepada korban gempa di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, kemarin. Helikopter dikerahkan untuk mendistribusikan bantuan bagi korban gempa akibat jalur darat tidak bisa dilalui.


Sulitnya menembus wilayah pedalaman Sumatera Barat (Sumbar),terutama di perbatasan Kabupaten Padang Pariaman dengan Kabupaten Agam,menjadi masalah besar dalam penyaluran bantuan kepada korban gempa. Distribusi bantuan tersendat, terutama dalam penyaluran bantuan dari kecamatan ke desa (nagari).

Penyaluran berbagai jenis bantuan pun harus dimaksimalkan melalui udara dengan menggunakan helikopter. Jika langkah itu tidak dilakukan, korban gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR), Rabu lalu (30/9), akan terancam kelaparan. Pantauan harian Seputar Indonesia (SI) dari udara dengan menumpang helikopter jenis Bell milik TNI Angkatan Darat (AD),terdapatratusantitik longsor di perbukitan yang menjadi perbatasan Padang Pariaman denganAgam.

Titik longsor tersebut menutupi jalan sehingga penyaluran bantuan lewat darat tidak memungkinkan. Helikopter pun terpaksa mencari tempat pendaratan yang aman di permukiman yang tidak terkena longsoran. Selain helikopter, distribusi bantuan juga dengan kendaraan kecil yang dianggap masih bisa menembus wilayah terisolasi.

Helikopter milik TNI itu digunakan mengangkut bantuan berupa pakaian bayi, perlengkapan ibu hamil,makanan dan tenda.Tempat yang beberapa kali didarati helikopter untuk memberi bantuan adalah halaman kantor Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, serta Desa Gunung Padang Alai, Kecamatan Lima Koto Timur Padang Pariaman.

Malalak adalah salah satu kecamatan yang paling sulit dilewati. Jalan sepanjang kurang lebih 8 km mulai dari Desa Tandikat di Kecamatan Patamuan Padang Pariaman menuju Malalak penuh titik longsor. Dua hari lalu, beberapa mobil yang membawa bantuan mogok di jalan alternatif Padang-Bukittinggi itu.

Asisten Operasi Komando Daerah Militer I Bukit Barisan Kolonel Inf Binarko mengatakan,penyaluran bantuan lewat jalan darat memang sulit dilakukan.Oleh karena itu, satu-satunya cara adalah memaksimalkan penggunaan helikopter. Sulitnya menembus permukiman di kawasan perbukitan ini mengakibatkan bantuan yang tersedia di gudang Satuan Koordinasi Pelaksanaan (Satkorlak) Penanggulangan Bencana (PB) terlambat tiba di lokasi.

”Siapa pun yang ingin memberi bantuan, kita siap menyalurkan,” kata Binarko di Padang kemarin. Sayangnya, menurut seorang penerbang Angkatan Darat (AD), kurangnya koordinasi Satkorlak PB dengan TNI AD mengakibatkan keberadaan helikopter kurang maksimal.Barang bantuan banyak yang menumpuk di gudang Satkorlak Penanggulangan Bencana yang berada di belakang rumah dinas Gubernur Sumbar.

Selain TNI AD, Badan SAR Nasional dan Polri juga menyediakan masing-masing dua helikopter untuk kepentingan evakuasi dan penyaluran bantuan. Di setiap lokasi bencana yang terisolasi,TNI sudah menyiapkan personel untuk membantu penyaluran bantuan. Sejauh ini, ujar Binarko, pihaknya belum menerima laporan adanya korban yang kekurangan bantuan.

”Dari laporan semua sudah teratasi,” kata Binarko. Menurut Kepala Desa Malalak Selatan, Erdinal, bantuan dari pemerintah baru tiba dua hari setelah gempa.Namun warga sudah mendapatkan bantuan dari warga perantau dan sejumlah lembaga yang langsung datang ke desa itu. Hingga dua hari lalu, warga Damarbanca dan sejumlah dusun yang terisolasi karena longsor sudah menerima bantuan makanan. Namun sejumlah warga masih mengeluhkan minimnya tenda, selimut,dan pakaian.

Sembilan Helikopter

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif menegaskan, penyaluran bantuan logistik bagi korban gempa dipercepat dengan mengirimkan tambahan alat pengangkut dan relawan. ”Sembilan helikopter dan tujuh kendaraan kecil dikirim ke lokasi bencana untuk mempercepat pengiriman bantuan.

Sebab yang menjadi masalah di sana bukan pengiriman dari provinsi ke kabupaten, tapi dari kecamatan ke nagari,” kata Syamsul Maarif di Jakarta kemarin. Pemerintah juga sudah mengirimkan 624 personel taruna siaga bencana (tagana) dan akan kembali mengirimkan 600 personel tagana untuk membantu penanganan masalah tanggap darurat, termasuk evakuasi dan distribusi logistik di lokasi bencana.

Dia menjelaskan pula bahwa selama ini setiap bantuan yang diterima pemerintah langsung didistribusikan ke daerah-daerah yang terkena dampak gempa.”Jadi tidak banyak sampai bertahan lama di gudang. Semua langsung didistribusikan setelah proses administrasi selesai. Ini harus dilakukan karena semua nanti harus dipertanggung jawabkan,” katanya.

Sebelumnya, distribusi bantuan bagi korban bencana di Sumbar terhambat sehingga sebagian korban tidak menerima cukup bantuan untuk keperluan hidup mereka. Sebagian korban gempa di empat kecamatan di Painan,Kabupaten Pesisir Selatan,Sumatera Barat, hingga kini juga belum mendapatkan bantuan logistik memadai.

Menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Pesisir Selatan, Nasir, bantuan bahan pokok yang diterima petugas posko bencana hingga saat ini berupa 10,3 ton beras,41.140 dus mi instan,420 dus air mineral, 100 kg gula, 20 kaleng ikan sarden, dan tenda 407 buah. Jumlah itu, katanya, belum bisa mencukupi kebutuhan korban gempa di empat dari 12 kecamatan yang paling parah terdampak gempa di wilayah itu.

Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mengakui kemungkinan ada korban gempa yang belum menerima bantuan. Namun, bukan berarti jumlah itu mayoritas ketimbang jumlah yang menerima bantuan dari aksi tanggap darurat bagi korban gempa.

”Yang tercecer,satu atau dua keluarga mungkin ada. Tapi jangan itu terus yang ditayangkan. Tayangkan juga bagaimana kerja tim kami di lapangan,” tuturnya. Hingga tadi malam, tercatat 259 orang masih dinyatakan hilang akibat gempa Sumbar. Sementara korban tewas yang sudah ditemukan sebanyak 704 dan 746 lainnya luka berat.

Kuburan Massal

Kemarin, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar mengeluarkan pendapat atau fatwa yang memperbolehkan tiga dusun yang tertimbun longsoran di Desa Tandikat, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman untuk dijadikan kuburan massal. Di ketiga dusun ini, yakni Cumanak,Lubuk Laweh, dan Kepala Koto, diperkirakan sekitar 360 orang meninggal dunia akibat tertimbun tanah.

Hingga hari keenam pascagempa, menurut tim identifikasi dari Polda Sumatera Selatan,dr Iptu Rahmad Fajar, baru 80 jenazah yang berhasil dievakuasi. Sementara di Dusun Damarbanca yang berada di Desa Malalak Selatan, Agam, yang berbatasan dengan Lubuk Laweh, jumlah warga yang tewas tertimbun tanah diperkirakan sebanyak 62 orang dan hampir separuh sudah dievakuasi.

MUI mengeluarkan pendapat itu setelah Pemerintah Sumbar sebagai Satkorlak PB menilai, pencarian korban sudah tidak memungkinkan. Lambatnya evakuasi karena hingga tiga hari setelah gempa, pencarian hanya menggunakan peralatan manual. ”Mulai besok, evakuasi di wilayah itu boleh dihentikan.MUI secara agama, telah memutuskan kawasan itu dapat digunakan sebagai kuburan massal,”kata Ketua Bidang Fatwa MUI Sumbar Gusrizal Gazahar di Padang.

Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Priyadi Kardono mengatakan, walau MUI sudah mengeluarkan pendapat, hal itu hanya sebatas saran.Semuanya harus dikembalikan kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Oleh karena itu, Satkorlak PB maupun BNPB belum memerintahkan penghentian pencarian dan evakuasi.

”Kalau masyarakat meminta pencarian diteruskan, kita tidak bisa berhenti,”ujarnya. Menurut Priyadi, sebenarnya masih cukup waktu melakukan pencarian karena dua bulan masa tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah masih lama berakhir. Walau demikian, BNPB berpendapat agar masa tanggap darurat dipersingkat untuk mempercepat pemulihan Sumbar.
Tambah Gambar
Kemarin, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mendampingi wakil presiden terpilih Boediono menuju Desa Tandikat,Kabupaten Padang Pariaman, lokasi bencana longsor tersebut. Gamawan menyatakan, pihaknya tetap akan melakukan evakuasi terhadap korban yang tertimbun reruntuhan bangunan maupun tanah longsor.Pencarian terhadap korban tetap dilakukan meski kemungkinan hidup sudah tidak ada.

sumber : si
»»  READMORE...

Semua yang Terjebak di Hotel Ambacang Tewas

Tuesday, 6 October 2009

AKHIRNYA, Pemkot Padang mengambil keputusan untuk menghancurkan Hotel Ambacang. Pertimbangannya, amat kecil kemungkinan ada korban yang selamat di hotel enam lantai yang roboh itu. Tim evakuasi sejak kemarin (5/10) mulai membongkar sisi kanan bangunan Ambacang.

Empat alat berat dikerahkan untuk menghancurkan kerangka hotel tersebut. Proses penghancuran itu terus berlanjut hingga tadi malam.

Kini yang tersisa pada separo bangunan tersebut hanya puing berserakan yang menggunung. Rencananya, sisi kiri Ambacang akan dirobohkan hari ini.

Wakil Ketua Satlak Penanggulangan Bencana Kota Padang Haris Sarjana mengatakan, tim SAR sudah tidak mungkin lagi mencari korban yang masih hidup. ’’Ini sudah hari keenam, jadi mustahil. Biasanya korban paling lama bertahan empat hari,” jelasnya.

Seperti diberitakan, saat terjadi gempa pada Rabu (30/9), diperkirakan ada 200 orang yang berada di Ambacang. Sebagian besar belum berhasil dievakuasi.

Saat ini, fokus satlak adalah mencari mayat. Penghancuran bangunan tersebut akan mempermudah pencarian mayat yang diduga masih ratusan. Para relawan dari TNI angkatan darat, laut, maupun udara siap mencari korban yang meninggal.

Selama ini, kata dia, satlak berupaya maksimal mencari korban yang diperkirakan masih hidup. ’’Namun, proses evakuasi di gedung bertingkat memang susah,” jelasnya.

Sementara itu, harapan keluarga korban yang selama ini menanti kabar pupus sudah. Dengan dihancurkannya Hotel Ambacang, tertutup sudah kemungkinan menemukan korban dalam keadaan hidup. ’’Kami hanya pasrah. Ini memang sudah enam hari,” ucap Lestari, salah seorang keluarga korban.

Lestari menuturkan, setiap hari dirinya datang ke Ambacang untuk mengetahui kabar kakaknya, Roni Priambudi. Namun, kini penantian itu berakhir sudah.

FOKUS YANG HIDUP

Pemerintah sepakat menghentikan pencarian korban meninggal. Bahkan, relawan dari sejumlah negara bakal dipulangkan. Tim SAR tidak bertugas mencari korban yang meninggal, melainkan fokus pada penyelamatan korban yang masih hidup.

Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Priyadi Kardono mengatakan, korban yang meninggal bakal dicari oleh relawan dan keluarga yang ingin menemukannya.

’’Mulai besok (hari ini, Red), tidak akan ada aktivitas dari tim SAR untuk mencari korban tewas,’’ katanya, kemarin (5/10).

Priyadi mengungkapkan, semua bangunan yang rusak karena gempa akan direnovasi. Karena itu, BNPB yakin korban meninggal bisa ditemukan.

Selama ini, tim SAR telah berupaya mengevakuasi korban di lebih dari 35 titik di Kota Padang, termasuk Hotel Ambacang dan Roxy. Namun, di antara korban yang ditemukan, tidak ada satu pun yang hidup.

Dia mengatakan, saat ini timnya fokus mencari korban yang diperkirakan masih hidup di luar Kota Padang. Terutama, wilayah utara dan barat. Beberapa tim lain menyusur wilayah selatan dan timur.

Menurut Priyadi, tim Singapura benar-benar berupaya keras mencari korban di antara reruntuhan rumah di Pariaman, namun hasilnya nihil. Priyadi menjelaskan, sebagian tim SAR internasional sudah meninggalkan Indonesia, termasuk dari Korea Selatan.

Hingga kemarin, korban tewas berjumlah 608 orang. Rinciannya, di Kota Padang 242 orang, Kota Pariaman 32 orang, Kabupaten Padang Pariaman 285 orang, Kabupaten Pesisir Selatan 10 orang, Kota Solok 4 orang, Kabupaten Pasaman Barat 3 orang, dan Kabupaten Agam 32 orang. Korban yang hilang berjumlah 343 orang, luka berat 596 orang, dan luka ringan 897 orang.

Bangunan rumah yang rusak berat berjumlah 81.863 unit, rusak sedang 34.906 unit, dan rusak ringan 69.189 unit.

Pemprov Sumatera Barat (Sumbar) juga sudah mendistribusikan bantuan masing-masing Rp 100 juta ke Kota Padang, Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kab Pesisir Selatan.

Pendistribusian bantuan hingga kemarin belum maksimal. Bantuan yang menumpuk di bandara mulai didistribusikan. Tapi, penumpukan terjadi lagi di rumah dinas gubernur dan wali kota. Berbagai bantuan, seperti bahan makanan, pakaian, selimut, tenda, terlihat menggunung.

Bantuan dari negara-negara asing disimpan di hanggar Bandara Internasional Minangkabau. Di tempat itu berbagai barang, seperti tenda, genset, obat-obatan, belum seluruhnya didistribusikan. Untuk bantuan asing, yang bertanggung jawab adalah bea cukai. ’’Kami menunggu Dishub dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk distribusi semua bantuan ini. Kami hanya memfasilitasi penyaluran bantuan,’’ tutur Wawan Wahyudi, salah seorang petugas bea cukai.

Wawan mengatakan, bantuan asing datang, antara lain, dari Jepang dan Prancis. Umumnya, bantuan berupa obat-obatan. Di antara seluruh bantuan itu, sekitar 20 persen akan disalurkan ke Kota Padang. Kabupaten Pariaman 20 persen, Kota Pariaman 10 persen, dan sisanya didistribusikan buat kabupaten/kota lain yang terkena bencana

sumber : kp
»»  READMORE...

Kampung Pecinan Dijarah Belum Dapat Bantuan, Listrik dan Air Mati

KAMPUNG HILANG: Sejumlah warga termenung di tepi jurang sambil memandangi bekas kampung berikut harta bendanya yang hilang tertimbun tanah longsor akibat gempa, Rabu (30/9) lalu. Di Kabupaten Padang Pariaman banyak kampung yang terkubur bersama ratusan warganya.

Sudah jatuh ketimpa tangga. Itulah yang dialami korban gempa dari kalangan warga Tionghoa Kampung Pecinan, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Harta mereka yang masih tersisa dijarah oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Hal tersebut disebabkan belum adanya evakuasi oleh pemerintah terhadap rumah warga yang roboh.

Sekretaris Himpunan Tjinta Teman (HTT) Indra Sofyan mengatakan, di Jalan Niaga, Pondok Pecinan, Padang, sudah terjadi penjarahan. ”Kulkas, AC, dan TV di rumah-rumah yang ambruk di kawasan tersebut habis,” ujarnya, kemarin (5/10).

Warga setempat mulai resah karena para pendatang yang tidak bertanggung jawab mengambil harta dan barang mereka seenaknya. Warga tak berdaya karena tidak bisa begitu saja mengevakuasi isi rumah mereka yang hampir semuanya hancur.

Menurut Indra, suasana Pondok Pecinan bak kota mati. Kondisi itu dimanfaatkan oleh para penjarah. Sejak gempa terjadi Rabu lalu (30/9), listrik di kawasan tersebut padam total dan belum menyala hingga kemarin. Padahal, listrik di sejumlah kawasan lain, seperti Jl A Yani dan Damar, sudah menyala lagi. Fasilitas air bersih di Pondok Pecinan pun belum normal.

Kampung Pecinan memang termasuk daerah yang parah dilanda gempa. Hampir semua bangunan –yang kebanyakan bercirikan Tiongkok- hancur. Sebelumnya diperkirakan ada 3.000 warga yang tewas tertimpa reruntuhan bangunan yang hingga kemarin belum dibersihkan.

Sebelumnya, beredar SMS yang bernada diskriminasi dalam hal penanganan evakuasi dan penyaluran bantuan. SMS yang beredar dari HP ke HP itu berbunyi: Tell the world, Stop the donation to West Sumatra!!! Primodialism and racism is happening in there, Chinese people didn’t allowed to have food and was forced to buy the food aid. Family of mine was at there!!! Please sent out this massage to the world so they know the true!!! (katakan pada dunia, stop bantuan ke Sumatera Barat!!! Primodialisme dan rasisme terjadi di sana, warga China tak diperbolehkan mendapatkan makanan dan dipaksa membeli bantuan makanan. Keluargaku di sana!!! Tolong sebarkan pesan ini ke seluruh dunia biar mereka tahu kenyataan ini!!!).

Pihaknya bisa saja mengupayakan bantuan alat berat untuk mengevakuasi rumah warga. ”Tapi, kan mereka harus izin tetangga di sebelahnya. Sebab, kalau kena rumah mereka, bagaimana?” tutur Indra.

Banyak warga memilih tidak mengevakuasi maupun mengeluarkan barang-barang dari rumah terlebih dulu karena khawatir dijarah. ”Jika barang-barang dikeluarkan, bisa dimanfaatkan oleh penjarah,” imbuh dia. Ternyata, belum lagi barang-barang itu dikeluarkan, penjarah lebih dulu mengobrak-abrik isi rumah warga yang roboh.

Untuk distribusi makanan, meski warga Tionghoa di sana belum mendapat bantuan dari pemerintah, jelas Indra, tidak ada persoalan. Selama ini, bantuan mengalir lancar dari warga Tionghoa di berbagai provinsi.

”Kami kan punya banyak cabang. Nggak di sini saja. Mereka siap bantu. Termasuk, orang perantauan Tionghoa di berbagai daerah,” ucap dia. Mereka juga dapat banyak bantuan dari berbagai LSM, seperti mi instan, tenda, dan selimut. ”Jumlah amat cukup,” sambungnya.

HTT tak mempersoalkan belum turunnya bantuan makanan dari pemerintah. Dia menduga, saat ini fokus pemerintah adalah Padang Pariaman yang dinilai lebih membutuhkan bantuan. ”Itu masalah prioritas,” terang dia.

Hanya, lanjut dia, yang paling urgen saat ini adalah listrik dan air. Karena belum ada fasilitas tersebut, aktivitas masyarakat terhambat. ”Kami kan menemukan banyak mayat. Nah, mau memandikan, tapi nggak ada air, bagaimana?” ucapnya.

Selain itu, selama ini warga mengandalkan genset untuk memenuhi kebutuhan akan listrik. ”Tapi, harga BBM (bahan bakar minyak, Red) tinggi setengah mati,” ungkap dia. Karena itu, warga amat berharap dua fasilitas tersebut – listrik dan air- segera normal.

Salah seorang pengurus Himpunan Bersatu Teguh (HBT) yang tidak mau disebut namanya menjelaskan, hingga kemarin tidak ada bantuan dari pemerintah yang mampir di poskonya. Apalagi, bantuan makanan. Selama ini, warga Tionghoa di sana mengandalkan bantuan dari anggota di berbagai daerah.

”Faktanya memang demikian. Hingga kini belum ada bantuan makanan dari pemerintah, apalagi tenda dan evakuasi,” tegas dia. Dia berharap pemerintah segera memerhatikan persoalan tersebut.

MASIH LUMPUH

Sementara itu, kondisi kawasan Pondok Pecinan hingga kemarin (5/10) masih memprihatinkan. Selain puing-puing bangunan berserakan, aktivitas ekonomi masih lumpuh total. Kebanyakan pemilik toko belum berani memulai aktivitas karena takut gempa susulan merobohkan bangunan mereka.

Berdasar pantauan Padang Ekspress (Jawa Pos Group), lebih banyak bangunan hancur ketimbang yang masih kukuh berdiri di Pondok Pecinan. Hampir di setiap ruas jalan terdapat bangunan yang hancur. Puluhan ruko dan toko kecil juga tutup. Sebagian pemiliknya berada di lokasi untuk mengevakuasi barang-barang tersisa.

Dari sekitar 600 bangunan di kawasan Pondok Pecinan, lebih dari 400 terkena dampak gempa. Banyak yang hancur, ada pula yang roboh sebagian. Sebagian lain retak di bagian fondasi dan badan rumah.

Michael (30), salah seorang pedagang kelontong di kawasan Pondok Pecinan, menyatakan, dirinya masih menyingkirkan puing-puing reruntuhan toko miliknya. ’’Dari luar memang masih tampak bagus. Tapi, di dalam rusak parah,’’ ujarnya, mengomandoi para pegawai menginventarisasi barang-barang.

Meskipun buka, tak ada transaksi jual beli di toko Michael. Hanya sesekali dia melayani warga yang membeli kebutuhan makanan, seperti mi instan dan air mineral. ’’Kalau tak dilayani, kasihan. Mereka butuh makanan,’’ tuturnya.

Michael belum bisa menaksir kerugian yang diderita akibat gempa. Dia juga belum bisa memprediksi kapan tokonya buka seperti biasa. ’’Yang pasti, evakuasi barang dan bersih-bersih dulu. Soal transaksi, kita lihat nanti saja. Sepertinya saya butuh tempat baru karena daerah sini tak layak huni lagi,’’ katanya.

Kondisi serupa terlihat di pasar tanah kongsi kawasan Pondok Pecinan. Pasar yang terdiri atas puluhan kios dan lapak pedagang itu tampak lengang. Hanya beberapa yang berjualan. Itu pun menjual sisa stok lama.

’’Kalau tak jualan, kami dapat uang dari mana,’’ kata Rini, salah seorang pedagang di pasar tersebut. Sejak terjadi gempa, kata dia, baru kemarin dirinya berjualan. Sebab, sebelumnya dia disibukkan dengan aktivitas membereskan rumah yang ikut hancur.

Beberapa pedagang juga sibuk membereskan kios yang berantakan. Ada yang sengnya roboh. Ada juga yang dinding bangunannya hancur sehingga tak memungkinkan untuk berjualan lagi.

’’Saya tak berani jualan karena ada isu gempa lebih dahsyat. Jadi, sekarang cuma evakuasi barang dan kemungkinan saya mengungsi ke tempat saudara di luar kota,’’ kata seorang pedagang makanan yang menolak disebut namanya.

Penduduk juga belum bisa lega. Sebab, mereka masih kesulitan membeli bahan makanan. Alhasil, mereka terpaksa mengonsumsi makanan instan atau cepat saji. ’’Dalam kondisi darurat seperti ini, tak bisa memilih. Semoga bisa cepat berakhir,’’ harap Katrina, yang membeli beberapa bungkus mi instan dan telur.

sumber : kp

»»  READMORE...

Wilayah Terisolasi Butuh Bantuan

Korban gempa di Sumatera Barat,terutama di wilayah yang sulit dijangkau,banyak yang belum mendapatkan bantuan.Selain makanan,korban gempa memerlukan tenda untuk tempat tinggal sementara. Saat ini banyak daerah yang terisolasi akibat terputusnya akses jalan sejak gempa melanda Sumbar pada Rabu lalu (30/9).

Sebagian besar daerah yang terisolasi berada di Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman seperti Sicincin, Koto Tinggi, serta Kabupaten Agam seperti di Malalak. Daerah tersebut tidak bisa ditembus lewat jalur darat. Jika ada yang bisa ditembus lewat jalur darat, harus menggunakan mobilmobil kecil.

”Kami terpaksa menggunakan helikopter untuk mengirimkan bantuan ke lokasi yang terisolasi karena tidak bisa dilakukan melalui jalur darat,” kata Kapolda Sumbar Brigjen Pol Wahyu Daeni di Padang Pariaman kemarin. Kapolda mencontohkan, daerah yang telah dia kunjungi di Sicincin, Padang Pariaman, tidak bisa ditembus via darat, sementara penduduknya membutuhkan bantuan logistik.

Pihaknya masih menginventarisasi lokasi mana saja yang terisolasi akibat gempa dan harus dikirimi bantuan melalui udara.”Kami fokus pada titik-titik lokasi yang sukar ditembus dulu untuk menyalurkan bantuan logistik karena penduduk di sana sangat membutuhkan bantuan,”katanya.

Warga di beberapa wilayah di Padang Pariaman juga mengaku belum mendapatkan bantuan maksimal dari pemerintah.Yarmaini, 26, warga Nagari Sikucur, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman, mengaku belum mendapat tenda yang sangat dibutuhkannya untuk tinggal sementara.

”Sekarang karena rumah roboh, kami tinggal di kandang ayam.Ada di lantai atas kadang ayam itu,” jelas Yarmaini yang ditemui di rumahnya kemarin. Yarmaini mengaku terpaksa tinggal bersama ayam peliharaan karena tidak ada lagi tempat berteduh. Selain tempat tinggal,Yar dan korban di desanya juga belum mendapat bantuan bahan makanan yang sesuai. ”Sayur sedikit.

Terong satu dipotong-potong untuk beberapa kepala keluarga, kol juga begitu. Beras hanya 1,5 kg,” ceritanya. Hal yang sama dirasakan warga di Jorong Padang Bungo, Nagari Gadur, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman. Salah seorang warga yang menolak disebut namanya mengaku kecewa dengan sistem distribusi bantuan yang dilakukan pemerintah setempat.

Dia mencontohkan, korban yang berada di sekitar posko mendapat bantuan selimut, beras, roti, dan mi instan sesuai kebutuhan. ”Tapi korban yang lokasinya sekitar 200 meter dari posko hanya mendapat satu bungkus mi dan satu liter beras untuk satu keluarga. Nggak boleh begitu harusnya,” tuturnya kepada harian Seputar Indonesia (SI) tadi malam.

Kepala Sekretariat Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar Ade Edward bahkan mengaku mendapat laporan adanya bantuan bagi korban gempa yang dijarah warga. ”Kita sudah menerima laporan penjarahan yang dilakukan oknum masyarakat dan tindakan itu sangat disesalkan,”kata Ade di Padang kemarin.

Pihaknya meminta polisi dan aparat keamanan lainnya menindak tegas oknumoknum masyarakat yang telah melakukan aksi penjarahan bantuan bagi para korban gempa. Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah mengakui bantuan untuk korban gempa di Sumbar belum semuanya terdistribusi. Bantuan itu menumpuk di kantor-kantor bupati dan belum bisa disalurkan karena terkendala masalah angkutan.

”Saya sudah perintahkan gubernur untuk kerahkan mobil-mobil rescue kecil untuk menyalurkan bantuan yang menumpuk di kantorkantor bupati,” kata Bachtiar di Jakarta kemarin. Dia mengemukakan, penyaluran bantuan terhambat kondisi jalan yang rusak dan kecil menuju lokasi-lokasi bencana.”Saya paham daerah itu. Jalannya kecil dan harus dengan mobil kecil,”ujar Bachtiar.

Mensos menambahkan, proses pengiriman bantuan sebelum diterima korban harus melalui kecamatan dan diteruskan ke waliwali nagari (desa). Bantuan akan terus dikoordinasikan secara optimal selama 24 jam. Sementara itu, korban tewas akibat gempa Sumbar yang telah ditemukan hingga kemarin pukul 17.00 WIB terus bertambah menjadi 612 orang. Dilaporkan pula warga yang hilang mencapai 343 orang.

Pada sisi lain, pascagempa bumi berkekuatan 7,6 SR pada Rabu (30/9), hingga Senin (5/10) pagi sudah terjadi gempa susulan 582 kali di sana. ”Gempa susulan terus terjadi. Namun lebih kecil,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padangpanjang Taufik Gunawan.

Tentang isu gempa yang lebih besar, dia mengatakan, harus dipahami bahwa Sumbar berada di daerah patahan Sumatera dan di jalur patahan Indo-Australia yang berada di pantai barat.”Karena itu, di kawasan ini memang berpotensi terjadi gempa besar,”kata dia.

sumber : si
»»  READMORE...
 
 
 

About Me

My Photo
Ernesto Silangen
samarinda, kalimantan timur, Indonesia
View my complete profile

Followers

 
Copyright © Mahakam News